Wednesday, 28 October, 2020

Abtraksi Paradigma Nasionalisme Religius di Indonesia


Abstraksi Pradigma Nasionalisme Religius di Indonesia Dialeka
Dialeka.com, Jakarta. Perjalanan politik di indonesia dalam sejarah diwarnai dinamika yang cukup mengesankan, dari masa berdirinya bangsa indonesia 18 Agustus 1945 secara konstitusional. Dinamika itu terjadi karena dipersoalkan oleh adanya dikotomi antara kalangan islamisme dan nasionalisme. Bahkan ada yang mengatakan di era kepemimpinan Soekarno sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan perang politik ideologi sangat kental. Antara Islam dan nasionalis. Islam dianggap sebagai nilai-nilai hal yang sakral karena bersumber dari tuhan melalui wahyu malaikat Jibril. Sedangkan nasionalisme hanya dianggap sebagai sumber konsensus manusia dan karena itu bersifat sekuler belaka. 
Pertentangan itu terus berlanjut ketika para kaum islamisme yang pada saat itu dimotori oleh KH. Bagus Hadikusumo dan Abdul Kahar Mudzakkir dari Muhammadiyah dan KH. Wahid Hasyim dari Nahdhatul Ulama (NU), dilatarbelakangi organisasi kemasyarakatan sosial para kaum Islam menggaungkan indonesia menjadi negara Islam. (Islamic state) dan para kaum nasionalis juga mengatakan yang pada saat itu dimotori oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno menginginkan indonesia dikonstruksikan menjadi negara nasional. 
Akhirnya, tidak mendapatkan konsensus antara keduanya tuntunan Islam dijadikan sebagai dasar negara dan lahirnya piagam Jakarta sebagai kompromi antara kaum Islam dan nasionalis dalam Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPK) berbuah, penghapusan tujuh kata dalam sila pertama. Pada 18 Agustus 1945. Kalangan Islam menerima penghapusan tersebut karena Soekarno menjanjikan masalah tersebut akan dibicarakan pada saat yang lebih tenang, masalah dasar negara akan didiskusikan ulang yang pada akhirnya, tujuh kata dalam siap pertama tersebut dihapuskan melalaui Dekrit tanggal 5 Juli 1959. 
Hingga pada akhirnya pertikaian politik ideologi berakhir di masa orde lama dengan lengsernya Presiden Soekarno pada tahun 1966, Presiden selaku presiden/panglima tertinggi/pemimpin revolusi/mandataris MPRS, mengeluarkan Supersemar, yang isinya, antara lain:
Memutuskan dan memerintahkan: Kepada Letnan Jenderal Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat untuk atas nama Presiden/Panglima Tertinggi Pemimpin Besar Revolusi.
1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan pemerintah dengan panglima-panglima Angkatan lain dengan sebaik-baiknya.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.”
Orde lama awalnya diharapkan dapat memberikan ruang ekspresi yang lebih baik bagi kaum Islam. Namun yang terjadi malah rezim orde baru mencederai harapan kaum Islam sebelumnya, rezim Orba malah mencurigai di dalam tubuh Islam ada indikasi sebagai konstruksi yang membahayakan bagi keberlangsungan negara. Dengan sikap Orba yang menekan beberapa kalangan kaum Islam para pelajar dan mahasiswa malah membentuk gerakan dengan visi Islam yang ideologis untuk melawan. 
Kebijakan di Orba juga berdampak besar terhadap organisasi pelajar misalnya pada organisasi yang ada di sekolah menengah dan umum pemerintah membentuk OSIS sebagai satu-satunya organisasi pelajar dampak itu juga berlanjut pada organisasi kemahasiswaan, sebut saja HMI, GMNI, PMII dan GPI ruang geraknya oleh pemerintah orde baru sangat dibatasi. Pelatihan-pelatihan yang dianggap berbahaya atau berbahaya bagi kondusifitas pemerintah. Dibubarkan tanpa alasan yang jelas.
Jalur kultural 
Tercatat paling tidak hanya kiprah Masyumi, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama’, dan beberapa ormas Islam yang pada saat itu tetap dibiarkan berproses di jalur kultural. Pemerintahan pertama setelah kemerdekaan itu juga berhasil membentuk departemen Agama yang berfungsi membantu umat beragama untuk menjalankan proses peribadahan. Departemen Agama 
tidak bermaksud mengintervensi umat beragama dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. 
Dalam perkembangan berikutnya, pemerintahan Orde Baru yang mengkampanyekan pada rakyat Indonesia untuk menegakkan supermasi hukum dalam tata kenegaraan berdasarkan konstitusi yang ada yaitu Pancasila dan UUD 1945, ternyata di pihak lain justru melakukan pembodohan bagi rakyat. Rezim totalitarianisme Orde Baru tanpa sadar atau bahkan disengaja melakukan praktek pemerintahan yang tidak berdasarkan konstitusi. Dengan dalih demi keamanan dan ketertiban serta terwujudnya persatuan dan kesatuan nasional, mereka menggunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan. Termasuk pula mengingkari aturan-aturan dalam konstitusi kita.
Keberlanjutan kritik yang diberikan oleh kaum moderat (NU) hingga mendapatkan fasilitas yaitu Ikatan Cendekiawan Indonesia (ICMI) guna memberikan tempat untuk kaum Islam yang pro-negara, puncak dari buruknya Orde Baru adalah ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan ekonomi liberal. yang terjadi adalah ketidaksiapan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ekonomi global. makanya terjadilah krisis ekonomi yang melahirkan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah sehingga melahirkan era reformasi atau runtuhnya Orde Baru.
Di era reformasi ketidakjelasan konstitusi makin menjadi. Indikasi ini berawal dari tuntutan amandemen terhadap Undang-undang 1945. Yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), padahal pada saat itu hal yang paling kacau adalah regulasi yang berada dibawah UUD 45. Yaitu pemerintahan, kebijakan presiden dan mentri misalnya. Karena banyaknya kelompok yang berkepentingan sampai terjadi Amandemen dalam setiap tahun setelah reformasi yaitu pada 1999-2002, hinggap berubah UU sakral tersebut.
Penulis:
Amiruddin, Mahasiswa UMJ jurusan Politik

0 comments on “Abtraksi Paradigma Nasionalisme Religius di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.