Wednesday, 28 October, 2020

Bulan Sya’ban Dan Peristiwa Pengalihan Arah Kiblat


Bulan Sya’ban Dan Peristiwa Pengalihan Arah Kiblat

Esensi Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban menempati posisi yang istimewa dalam agama Islam. Banyak keistimewaan-keistimewaan yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya di bulan ini. Salah satunya adalah Allah membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan-Nya di bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah ini. Untuk itu, pada bulan ini hambanya diperintahkan untuk memperbanyak ibadah; shalat malam, baca al-Qur’an dan terutama ibadah puasa sunnah.

Al-Imam ‘Abdurraḥmān As-Shafury dalam literatur kitab monumentalnya Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is menyebutkan, jika ditinjau dari segi linguistik, kata Sya’bān (شَعْبَانَ) merupakan singkatan dari huruf shīn yang berarti kemuliaan (الشَّرَفُ), huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat (العُلُوُّ), dan huruf ba’ yang berarti kebaikan (البِرُّ). Sedangkan huruf alif menujukkan arti kasih sayang (الأُلْفَة). Dan yang terakhir huruf nun yang mengisyaratkan pada makna cahaya (النُّوْرُ). Makna di atas merupakan semua predikat yang melekat dalam bulan Sy’ban yang disediakan oleh Allah SWT. untuk hamba-hambanya. Pada bulan Sya’ban inilah Allah SWT. membuka seluas-luasnya pintu-pintu kebaikan dan menurunkan berkah-Nya, dan pada bulan inilah Allah SWT. bershalawat kepada Rasulullah SAW. selaku khairul bariyyat (makhluk teragung).

Alasan penyebutan bulan (kedelapan) hijriyah ini dengan sebutan ‘Sya‘ban’ karena banyak ranting-ranting kebaikan pada bulan mulai ini. Sebagian ulama mengatakan, term ‘Sya‘ban’ berasal dari ‘Syâ‘a bân yang bermakna tersemburnya keutamaan dan keistimewaan. Juga ada yang menyebutkan, ‘Sya‘ban’ berasal dari kata ‘As-syi‘bu’ (dengan kasrah pada huruf syin), sebuah jalan di gunung, yang tidak lain adalah jalan kebaikan dan kemuliaan. Ada juga yang mengatakan, term ‘Sya‘ban’ berasal dari kata ‘As-sya‘bu’ (dengan fathah pada huruf syin), secara harfiah ‘menembel’ di mana Allah menembel dengan menghibur atau mengobati patah hati hamba-Nya di bulan Sya’ban. Dari kata ‘As-sya‘bu kemudian berkembang maknanya menjadi masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya membangun kesalehan sosial pada bulan Sya’ban.

 

Peristiwa Pengalihan Arah Kiblat

Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa bersejarah, yakni peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka‘bah di Arab Saudi dengan membuminya (turunnya) Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menganjurkan pembacaan shalawat, diangkatnya amal-amal manusia menuju ke hadirat Allah SWT, dan berbagai peristiwa lainnya.

Pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban, tahun ke 2 H. Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bersamaan dengan malam nisfu Sya’ban. Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal pengalihan kiblat itu. Kemudian turunlah surah al-Baqorah ayat 114 yang artinya:  

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Cikal bakal turunnya ayat di atas sebenarnya berawal dari harapan Nabi Muhammad saat di Madinah agar arah kiblat dialihakan ke Ka’bah. Sebab Ka’bah merupakan kiblatnya nabi Ibrahim, sedangkan Masjidil Aqsa menjadi kiblat bagi Yahudi. Karena hal itu, Rasulullah SAW senantiasa memohon kepada Allah SWT agar kiblat umat Islam dialihkan. Rasulullah sampai sering menghadap ke langit, berharap Allah memberikan perintah pemindahan kiblat.

Pasca turunnya ayat di atas sekaligus menandakan perubahan arah kiblat umat Islam, membuat Nabi Muhammad senang. Namun sebaliknya, bagi kaum Yahudi, perubahan ini merupakan pukulan telak. Karena dugaan mereka selama ini, ternyata salah total dan terbantahkan. Oleh karena itu, mereka sangat geram dan melontarkan isu-isu baru yang bersumber pada praduga hampa. Sebelumnya, umat Yahudi menganggap ajaran yang dibawa Rasulullah SAW mengikuti cara ibadah mereka. Mereka kemudian mengajak Rasulullah bergabung menjadi umat Yahudi.

 

Nisfu Sya’ban: Laporan Rekapitulasi Semua Amal

Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban menjadi sangat istimewa adalah karena pada bulan ini semua amal kita dilaporkan kepada Allah SWT. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW. “Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.” Pelaporan seluruh aktivitas (amal) yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan. Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu.

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa nisfu Sya’ban adalah waktu ditutupnya buku amal seseorang selama setahun dan dibukanya kembali lembaran-lembaran baru yang kosong untuk mencatat kegiatan-kegiatan pada edisi selanjutnya. Maka dari itu, dianjurkan untuk mengisi malam nisfu Sya’ban dengan berbagai rangkaian kegiatan ibadah, dari membaca al-qur’an, membaca salawat, berdoa dan beristighfar, membantu fakir miskin serta lainnya untuk mengakhiri lembaran lama dan mengawali lembaran baru. Untuk itu, mari jadikan bulan ini sebagai momentum peringatan diri menjadga ketatan kepada Ilahi, momentum untuk mengasah kecerdasan spritual dan menjaga ketahanan rohani dan jasmani.

 

Penulis:

Moh. Bakir, Lc., M.A. Dosen STIU Al-Mujtama’ Plakpak Pegantenan Pamekasan, dan mahasiswa S3 di PTIQ Jakarta.

 

 

0 comments on “Bulan Sya’ban Dan Peristiwa Pengalihan Arah Kiblat

Leave a Reply

Your email address will not be published.