Wednesday, 28 October, 2020

Filsafat Sebagai Akar Penyelesaian Masalah


Filsafat Sebagai Akar Penyelesaian Masalah Dialeka
Dialeka.com, Jakarta. Mari kita mulai dengan kata filsafat itu sendiri, filsafat berasal dari kata Yunani yaitu philosophia, yang tersusun dari dua suku kata yaitu “philos” dan “sophia”. Philos”berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan. Oleh karenanya, secara etimologis filsafat berarti “love of wisdom”. Dalam literatur Arab, filsafat disebut “falsafah”, yang saat ini sudah di transliterasikan dalam bahasa Indonesia menjadi Filsafat.
Filsafat pada hakikatnya berkaitan dengan cara mencari kebenaran yang menjadi pemicu manusia berpikir, melakukan pengamatan dan berbagai penelitian. Berfilsafat dapat diartikan melakukan kegiatan berpikir secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif (Yuyun S. Sumantri, 1998: 20).
Di Indonesia kita menyadari, dalam proses penyebaran dan sejarah panjangnya, oleh sebagian orang atau golongan filsafat masih dikelompokkan pada suatu disiplin yang harus dijauhi (tidak boleh dipelajari). Ada sebagian orang atau kelompok di sekitar kita yang begitu membenci dan bahkan sampai mengharamkan mempelajari disiplin ini. Tentu mereka memiliki persepsi sendiri bagaimana memahami istilah ini, tidak salah memang, pun juga begitu benar. Beragam argumen mereka (orang-orang anti filsafat) utarakan untuk mempertahankan apa yang mereka yakini, mengkafirkan, mencaci, adalah cara mereka membungkam kelompok lawan; dan di sinilah salahnya mereka penulis pikir.
Dari berbagai dinamika dan problemnya, sungguh filsafat tidak seburuk seperti apa yang mereka persepsikan, bahwa filsafat merupakan salah satu hadiah terbesar Tuhan bagi umat manusia. Perlu diketahui, pemahaman dalam filsafat tidak sekedar berhenti pada ranah materi seperti ilmu-ilmu fisik dan atributnya, filsafat jauh melampaui itu semua, pemahaman tertinggi dalam filsafat adalah memahami segala jenis realitas yang ada.
Perihal manfaat,  manfaat yang diberikan filsafat adalah manfaat metamateri. Yaitu, manfaat yang melintasi ruang dan waktu, yang kita sebut dengan kesempurnaan jiwa. Apakah ini sama nilainya antara mereka yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui? Tentu tidak, perbedaan keduanya seperti beda antara hidup dengan yang mati, ucap Aristoteles dalam salah satu kesempatan di Yunani dulu.
Filsafat sebagai peran substansial atas pertanyaan apa sebenarnya manfaat filsafat pada manusia dan kemanusiaan. Filsafat mengajak manusia pada peroses penyempurnaan diri, pada aktualitas manusia yang ditandai dengan aktualitas rasio dengan diperolehnya pengetahuan rasional ihwal hakikat realitas. Yang artinya, filsafat adalah ilmu yang memanusiakan manusia.
Di era kita saat ini, orang lebih berlomba bagaimana cara terbang melampaui sesama, bagaimana menyelami samudra terdalam. Tentu, semua itu membuat kita berdecak kagum. Tetapi, untuk apa semua itu. Untuk apa kemampuan terbang tinggi ke langit melampaui elang, untuk apa pula kemampuan menyelam dalam ke dasar laut mengalahkan paus, jika kita tak mampu berjalan di atas bumi sebagaimana manusia?
Sebagian besar dari kita, berjalan di bumi tak ubahnya sebagai binatang. Maka lihatlah eksploitasi demi eksploitasi mencemari bumi, etika kemanusiaan kita tidak terkendali tertutupkan hasrat duniawi. Kata Jean Paul Sartre; “Semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali satu hal, bagaimana cara hidup sebagai manusia.”
Bagaimana dusta bisa mengendalikan dunia? Dalam buku yang ditulis James Ball, Post Truth; How Bullshit Conquered The World. Sebagai politisi misalnya, sering-seringlah berbohong, maka anda akan terpilih sebagai anggota dewan. Sebab memang, kata Hitler, kebohongan dikali seribu sama dengan kebenaran.
Dan pada dasarnya, gejala seperti post truth sampai menemukan ruang dikarenakan tidak berfungsinya atau rendahnya kualitas dan daya nalar akal. Ketika akal dikudeta oleh indra dan emosi dari tahta pengetahuan, maka niscaya kebohongan akan mudah menjamur, kebenaran hanya semacam barang absurd. Sebab saat itu, analisa kritis akan padam, manusia akan menilai berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan dirasanya, bukan dengan cara padang filsuf gunakan.
Dan di sinilah urgensi filsafat. Sebagai ilmu yang menempatkan akal sebagai raja pengetahuan, filsafat mengajak manusia kembali ke akal, mengembalikan dan meningkatkan nalar kritis. Bisa saja realitas disaksikan dengan indra, tapi realitas mesti disimpulkan dengan akal. Di negara filosof, kebohongan tak akan diminati. Kebohongan diminati, sebab kebohongan ditampilkan seolah-olah sebagai kebenaran. Dengan akal, kebohongan akan terlihat sebagai adanya, bukan sebaliknya.
Kita hidup pada era di mana telah begitu banyak Sopis-Sopis baru tersebar, meraih untung materi dengan proses mengelabuhi. Lalu, dimanakah Sokrates sekarang?
Penulis:
Nurul Rahman Ilhami, Mahasiswa Filsafat UIN Jakarta

2 comments on “Filsafat Sebagai Akar Penyelesaian Masalah

Nurul Rahman Ilhami

Terimakasih sudah mau memuat tulisan saya dialeka

Reply
dialeka

sama-sama, ditunggu tulisan berikutnya.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.