Tuesday, 27 October, 2020

Hidup Minimalis Di Tengah Pandemi Dan Ekonomi Yang Kian Mengikis


Dialeka.com. Tahun ini nampak berbeda dengan tahun sebelumnya, semuanya berubah begitu saja tanpa kita bisa mengerti apa yang ada di balik semua ini. Kini negara diambang keterpurukan yang tak kunjung berkesudahan. Pengangguran di mana-mana karena pegawai banyak yang diberhentikan dikarenakan ekonomi yang semakin memburuk. Dunia terasa seperti mimpi buruk bagi sebagian orang. Mereka harus memutar otak untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan tak banyak dari mereka yang beralih profesi demi mencukupi kebutuhannya selama pandemi ini. Bukannya ingin melawan kebijakan, tetapi hanya dengan bekerja bisa makan. Realistis bukan?

Mereka, Ya mereka yang hidupnya bergantung pada kerja keras tanpa henti banting tulang bercucuran keringat yang paling merasakan dampak pandemi ini. Mungkin bagi segelintir orang masih bisa makan masih bisa mencukupi kebutuhannya meskipun di dalam rumah mereka tetap bisa menghasilkan uang. Lantas bagaimana nasib mereka yang hanya bisa mengandalkan semangat bekerja dikarenakan pendidikannya yang tidak mumpuni untuk bisa seperti orang-orang yang duduk-duduk santai di ruangan ber-AC dengan suara ketikan laptop di ruang kerjanya. Ini hanya soal cara berfikir dan bertindak yang semestinya. Berpikir dan bertindak yang dapat mendatangkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Ekonomi memang menjadi sektor yang paling berdampak akibat pandemi ini, Oleh karena itu, untuk menyelamatkan ekonomi ditengah pandemi ini, Presiden Jokowi memberikan keterangan kepada pers di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3/2020). Ia menyampaikan mengenai usaha penanggulangan virus Covid-19. Presiden Jokowi meminta kepada kepala pemerintah daerah untuk berkomunikasi kepada pemeritah pusat seperti Satgas Covid-19 dan kementrian dalam membuat kebijakan besar terkait penanganan Covid-19, dan ditegaskan kebijakan Lockdown tidak boleh dilakukan pemeritah daerah.

Dilihat dari kondisi ekonominya, disadari bahwa Covid-19 ini sangat berdampak pada pendapatan rakyat. Bahkan tak sedikit yang mengeluh karena memiliki kredit motor dan mobil seperti tukang ojek hingga sopir taksi. Oleh karena itu Pemerintah memberikan kelonggaran cicilan bagi pengusaha yang melakukan kredit dengan nilai di bawah Rp. 10 miliar akan diberi penundaan cicilan selama satu tahun dan juga penurunan bunga.

Selain itu, OJK akan memberikan kelonggaran, relaksasi kredit bagi usaha mikro, usaha kecil untuk nilai kredit di bawah Rp.10 Miliar, baik yang diberikan oleh perbankan maupun industri keuangan non bank. Kemudian pemerintah juga mengeluarkan kebijakan terbaru yaitu memberikan tambahan sebesar Rp 50.000 pada pemegang kartu sembako murah selama enam bulan, pembebasan biaya listrik dengan daya 450 VA dan pemotongan 50% dengan daya 900 VA, dan Khusus JABODETABEK yang kurang mampu diberikan berupa paket sembako dengan nilai Rp 600 ribu per keluarga agar konsumsi dapat meningkat,  pemerintah telah mengeluarkan kebijakan itu. Tetapi tetap saja sulit terjadi pemerataan karena kurangnya kesadaran masyarakat. Yang tergolong mampu masih saja mengambil hak orang lain yang lebih membutuhkan.

Pemerintah menyarankan masyarakat untuk tetap di rumah saja demi mencegah penularan lebih lanjut yang disebabkan oleh virus ini. Ya, memang itu yang terbaik untuk dilakukan. Tapi mengapa masih banyak yang ngeyel keluar rumah bahkan masih banyak yang berjualan di keramaian, padahal pemerintah sudah memberikan bantuan pokok untuk masyarakat yang terdampak. Mungkin, bisa jadi bantuan yang pemerintah berikan tidak cukup banyak dan sudah habis. Di saat seperti ini, kepekaan kita terhadap sesama sedang diuji, apakah kita bebar-benar peduli terhadap sesama? Atau justru lebih mementingkan diri sendiri dan acuh terhadap orang lain. Belum lama ini ada media massa yang memberitakan tentang seorang ibu yang diusir petugas karena ngeyel tetap menjajakan dagangannya di tengah pandemi ini. Satu kalimat yang paling saya ingat “di luar mati karena corona, di rumah kami mati karena kelaparan”ucap ibu itu dengan bergelimang air mata yang membasahi pipinya.  

Rasa empati harusnya bisa lebih tinggi daripada rasa mementingkan diri sendiri. Selama kita hidup berdampingan dengan orang lain, sudah sepatutnya muncul rasa saling peduli terhadap orang lain. Mungkin dari sisi keuangan pendapatannya semakin berkurang. Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan, indah rasanya jika saling membantu, memberikan sedikit harta yang kita punya untuk membantu orang lain,  itu sangat bermakna dan memilliki nilai manfaat untuk orang tersebut.

Kehidupan manusia di seluruh dunia berubah secara drastis akibat pandemi Covid-19. Saat ini, banyak negara dan pemerintah daerah menerapkan metode berbeda untuk menahan penyebaran virus corona baru, sembari mengupayakan masyarakat tetap beraktivitas namun dengan penyesuaian tertentu. Kebijakan jaga jarak yang dipilih pemerintah bukanlah tanpa risiko. Perintah kebijakan jaga jarak dalam jangka panjang dapat memperlambat kegiatan produksi ekonomi. Pembatasan interaksi sosial dapat mengurangi jumlah produksi barang yang krusial. Hal ini berlaku untuk produksi baik di dalam maupun luar negeri. Akibatnya, tingkat kegiatan dan permintaan ekonomi secara keseluruhan juga akan terganggu. Mengetahui risiko yang ada dan dampaknya ke dalam negeri, Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk menangani pandemi ini. Tetapi dalam implementasinya, Pemerintah Indonesia masih berfokus pada kebijakan pencegahan dan pembatasan. Prioritas pemerintah masih belum jatuh terhadap cara penanggulangan dan perbaikan.

Krisis kehidupan yang tengah terjadi saat ini merupakan buah dari kebiasaan manusia di bumi ini yang dianggapnya sebagai modernitas peradaban. Namun sangat disayangkan, ketika bumi sedang baik, mereka yang menganut prinsip “hidup untuk saat ini, besok dipikirkan lagi” justru gelagapan di tengah pandemi ini. Mulai kehabisan akal tentang bagaimana dapat memenuhi kebutuhannya di saat keuangan mulai menipis dikarenakan gaya hidupnya yang tidak memikirkan masa hadapan.

Di situasi seperti ini orang-orang banyak yang merubah kebiasaan mereka. Salah satunya dengan menerapkan gaya hidup minimalis selama di rumah saja. Gaya hidup ini ditempuh banyak orang karena masalah keuangan, ekonomi, dan kesehatan. Banyak orang mulai berfikir untuk menahan godaan terhadap hal-hal yang sifatnya materiil, konsumtif, dan foya-foya. Tidak banyak mengeluarkan uang dan lebih memprioritaskan barang-barang yang sangat dibutuhkan saja saat pandemi ini.

Penting halnya untuk menerapkan konsep minimalis di tengah ekonomi yang kian mengikis. Belilah sesuatu yang memang kalian butuhkan, itu lebih baik daripada membeli sesuatu untuk memenuhi hasrat yang sifatnya sesaat. Pandemi ini mengajarkan semua orang tentang bagaimana bertahan hidup untuk jangka panjang. Meskipun tujuannya untuk jangka panjang, alangkah baiknya jangan menyimpan atau menimbun makanan atau barang tertentu, karena sejatinya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Selain bisa kadarluasa, bahan pangan yang selama ini ditimbun itu akan sia-sia justru membusuk atau tidak bisa dikonsumsi lagi. Perlu diingat,  setiap yang kita makan ada hak orang lain di dalamnya, misalnya orang miskin yang tidak mampu untuk menyetok barang sudah pasti ia membeli barang sesuai uang yang ia punya. Tetapi apa jadinya jika barang itu stoknya habis di mana-mana kemudian harga barang itu pun semakin melonjak, maka mereka akan sulit memenuhi kebutuhannya, bisa jadi kelaparan atau mungkin berhutang di mana-mana.

Minimalis itu bukan pelit, melainkan sebuah cara merasakan makna dari sesuatu bukan memiliki sebanyak-banyaknya, dengan begitu kebahagiaan dapat dicapai dalam kesederhanaan. Minimalis bukan hanya terfokus pada pengurangan barang, melainkan penambahan nilai. Maksudnya kita bisa saja menyimpan barang-barang yang kita sukai untuk dikoleksi, tetapi barang-barang tersebut akan memiliki nilai lebih tinggi apabila kita menyumbangkannya atau menjualnya pada orang yang lebih membutuhkan. Menurut saya, di tengah pandemi seperti ini rasanya sangat tidak ada gunanya menyimpan barang-barang untuk dikoleksi. Bisa dikatakan menekan hasrat untuk memiliki itu lebih baik daripada berlomba-lomba siapa yang punya benda paling sedikit. Jika diulas lebih mendalam, Rasulullah pun sebenarnya menyarankan kita untuk hidup minimalis, yakni tidak berlebih-lebihan. Sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an;

     “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-An’am: 141)

Rasulullah mengajarkan agar kita memiliki gaya hidup yang tidak berlebihan. Kebutuhan pokoknya tercukupi. Minimalis dalam Islam dikaitkan dengan sikap Qanaah dan Zuhud. Yang mana arti Qanaah sendiri ialah merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sedangkan Zuhud sendiri memiliki arti meninggalkan sesuatu hal yang kurang bermanfaat karena hal itu cenderung menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah.

Kebijakan pemerintah ini tanpa disadari mendorong setiap orang untuk hidup minimalis. Dengan di rumah saja mungkin kita dapat melatih kreativitas kita, mengubah pola pikir kita yang biasanya selalu ingin menikmati segalanya terus-menerus, Kini berganti menciptakan sebuah karya yang dapat memiliki nilai tinggi di dalamnya. Misalnya, berjualan barang yang kita buat sendiri yang sifatnya ramah lingkungan. Semua orang bisa melakukannya, tidak mengenal kasta.Tentu banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan melakukan kegiatan positif seperti ini. Salah satu nilai manfaat yang diperoleh adalah menghasilkan uang tanpa harus menggangu ataupun merusak lingkungan sekitar. Kegiatan ini mungkin sangat efektif untuk dilakukan oleh banyak kalangan, terutama kalangan muda yang kini cenderung bermalas-malasan dan tidak produktif. Kegiatan ini selain melatih kreativitas juga membuat hidup lebih produktif dan tidak mudah bosan, karena biasanya jika sudah bosan manusia akan selalu mengeluh dengan keadaan yang terjadi.

Jangan jadikan alasan untuk bermalas-malasan selama di rumah saja. Kalian bisa lakukan banyak hal, apapun itu asal bermanfaat untuk dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Dengan di rumah saja bukan berarti tidak bisa produktif. Saya yakin orang-orang di zaman ini memiliki pola pikir yang luar biasa hanya saja kurang diasah, hingga membiarkan kemampuan dalam dirinya sia-sia. Mulailah bergerak, bangun dari mimpi dan wujudkan perubaan minimalis di tengah pandemi. Mulailah belajar mengelola keuangan dengan tepat, dan siapkan dana darurat apabila terjadi hal-hal di luar dugaan, seperti di saat pandemi ini. Ekonomi boleh saja mengikis, tetapi kretivitas jangan sampai menipis. Lakukan segalanya dengan sepenuh hati. Perlu diingat harta yang paling berharga adalah yang memiliki nilai makna di dalamnya.

 

Penulis:

Nurwulandari, Mahasiswi UMJ fakultas Hukum 

0 comments on “Hidup Minimalis Di Tengah Pandemi Dan Ekonomi Yang Kian Mengikis

Leave a Reply

Your email address will not be published.