Wednesday, 28 October, 2020

Imajinasi dan Harapan dalam Sejarah Umat Manusia


Imajinasi dan harapan dalam sejarah umat manusia

Dialeka.com, Jakarta. Bagi orang yang sepaham dengan Heidegger, Camus, atau Nietzsche, akan mengerti bahwa hidup sejatinya adalah tragedi. Peristiwa besar dalam sejarah umat kita adalah terlemparnya manusia ke planet bernama bumi. Atau, jika pernyataan tadi akan menuai banyak kritik dari para ilmuwan karena menolak adanya teori keterlemparan dan percaya pada proses evolusi, maka kita hanya tinggal geser sedikit: peristiwa mengerikan itu adalah proses berevolusinya mahluk menjadi spesies sapiens. Yaitu, kita. Manusia.

Tetapi, di tengah-tengah tragedi itu, sejarah umat manusia tetap saja berlanjut hingga kini. Di tengah kutukan kematian serta seabrek keharusan dari moral, norma, hukum, atau lainnya, kita tetap saja berdiri dengan pongah di muka bumi ini. Bahkan kita tak jarang bersikap seakan melupakan segala tragedi yang terjadi dan jumawa seakan kita telah menaklukkan segalanya.

Mungkin ada yang bilang bahwa ada beberapa kelas di dalam masyarakat kita yang melihat hidup ini sebagai komedi. Bagiku, pernyataan ini keliru. Bisa jadi menurut logika umum ada sebagian orang yang bernasib lebih baik daripada kebanyakan. Tetapi toh mereka mengahadapi tragedinya sendiri: stres, bisnis hancur, pendapatan menurun drastis, merasa kekurangan terus menerus, adalah penyakit khas kaum elit, dan ini juga tragedi. Mereka dibayang-bayangi waktu yang terus saja berjalan, sementara di sisi lain mereka juga terjebak pada kerakusan dan upaya memenuhi hasrat dan nafsu.

Ya, dalam tragedi kita masih tetap berdiri, sampai kini.

Dalam “Sapiens”, Harari menyebut bahwa salah satu faktor umat kita bertahan sampai saat ini dan mengalahkan spesies lainnya, menjadi predator tersangar sepanjang sejarah alam semesta, adalah imajinasi. Dengan ini, kita mampu meyakini suatu hal yang benar-benar abstrak. Ideologi negara, norma, hukum sosial, serta Dewa-Dewa adalah termasuk di dalamnya.

Harari mengutip salah satu rujukan hukum pada masa pemerintahan Hammurabi dulu (1776 SM), serta memperbandingkannya dengan teks tentang HAM yang dibentuk di Amerika (1776 M [selengkapnya lihat buku _Sapiens_, karya Yuval Noah Harari]). Ada hal yang jomplang di sana. Tetapi karena kita dianugerahi dengan kemampuan percaya pada suatu hal imajinatif, maka hukum menjadi kedua teks bersejarah itu menjadi pegangan sekelompok manusia pada masanya.

Masih menurut Harari, tak ada satu orangpun yang mampu melepaskan diri dari imajinasi. Ketika dia mencoba mendobrak satu imajinasi, maka dia perlu imajinasi lebih besar daripada imajinasi sebelumnya. Dan kepercayaan terhadap hal-hal imajinatif ini tak selamanya negatif.

Hal imajinatif lainnya, yang mungkin sama lawasnya dengan sejarah kita adalah harapan. Sesuatu yang kita sebut dengan ‘harapan’ ini semakin tampak saat spesies kita be-revolusi dari yang semula nomaden, menjadi masyarakat yang agrikultur. Bercocok tanam dan bertempat tinggal.

Harapan membuat spesies Sapiens tumbuh dan berkembang sampai sejauh ini. Harapan melahirkan banyak penemuan. Dari radio sampai televisi, dari obat-obatan canggih sampai bom nuklir. Tetapi ternyata, harapan juga menampilkan wajahnya yang lain.

Dengan hadirnya harapan, manusia menjadi khawatir, bahkan seringkali berlebihan. Manusia mulai memikirkan bagaimana nasib mereka bulan depan, bagaimana jika hujan tidak turun atau jika hujan turun secara berlebihan. Manusia mulai memikirkan bagaimana kehidupan mereka lima tahun yang akan datang. Bagaimana jika dipecat dari pekerjaan, bagaimana jika pendapatan anjlok, bagaimana jika pasangan selingkuh, serta banyak kekhawatiran lainnya. Kekhawatiran yang jelas tak akan muncul pada masyarakat nomaden (purba) dulu.

Harapan kadang membawa kita pada pikiran-pikiran pesimistis. Mungkin karena kebanyakan yang disebabkan harapan inilah absurdisme Camus lahir. Dia tahu bahwa harapan tak selamanya mengantarkan kita pada tujuan. Kadang meliuk, kadang nasib juga menghempaskan kita pada titik yang sama sekali tak kita sangka. Puthut EA memadatkannya dalam sebuah idiom yang juga menjadi salah satu judul bukunya, yaitu: “Hidup ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya.”

Ya, kita masih hidup dalam tragedi, sampai kini.

Aku tidak ingin mengajak pembaca untuk menjadi seorang absurdis atau bahkan nihilis. Karena mungkin banyak di antara kalian yang berpegang pada nilai agama atau nilai lainnya sehingga melihat alam semesta dengan tatap menggebu. Tetapi bagaimanapun kita menolak, sepertinya tak bisa kita nafikkan bahwa hidup juga menyimpan seribu hal-hal mengerikan. Walaupun kata Pram yang ngeri hanya tafsirannya.

Tetapi mari lupakan apa kata Pram, dan kembali fokus pada harapan.

Harapan telah berperan banyak dalam sejarah umat manusia. Dengannya, kita bisa terus melangkah dan bertahan atas setiap kutukan yang diberikan oleh kehidupan. Karena harapan adalah adalah satu-satunya hal yang kita punya dan dapat kita jadikan sebagai poros pegangan saat segala menghantam dan memaksa kita hancur lebur.

Persis seperti pada hari ini. Di mana fenomena merebaknya pendemi yang dikenal dengan penyakit Covid-19 atau Corona tengah menjadi ancaman seluruh bumi. Satu-satunya alasan mengapa orang berjuang untuk bertahan adalah harapan. Hanya karena itulah segala usaha kita lakukan.

Jadi bersiaplah dan nikmatilah segala yang terjadi. Karena seperti yang Camus bilang, kita, “para Sisiphus” ini sejak semula tak dihadapkan pada banyak pilihan. Dan hidup memang seakan selalu ingin berkata kepada kita sambil mengacungkan jari tengahnya: _”No Mercy!”_ (Bung)

 

Penulis:

Bung Ojan IR, Presiden HMJ Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (manusia yang tengah bertarung dengan dirinya sendiri)

0 comments on “Imajinasi dan Harapan dalam Sejarah Umat Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published.