Wednesday, 28 October, 2020

Menyikapi Coronavirus Dengan Syukur


Menyikapi Coronavirus Dengan Syukur

Dialeka.com. Dalam keyakinan umat Islam, segala peristiwa atau cobaan yang terjadi, termasuk wabah penyakit pasti memiliki atau membawa pesan dan hikmah yang tersirat. Hanya saja, banyak orang yang tidak menangkap pesan dan hikmah yang terpendam dibalik peristiwa itu. Hanya orang-orang berilmu dan orang-orang yang selalu ingin tahu yang dapat menang-kapnya dan mengambil hikmahnya. Keyakinan ini menyiratkan bahwa seburuk apapun kejadian atau cobaan, termasuk mewabahnya Virus Corona, pasti ada sebuah hikmah yang tersembunyi di baliknya. Salah satu hikmah dari sekian hikmah adalah untuk memberikan spirit atau semangat agar jangan kecewa dengan cobaan dan kegagalan yang dijumpai dalam hidup.

Allah tidak akan menurunkan suatu peristiwa dan cobaan seperti Coronavirus kecuali untuk kebaikan dan kemaslahatan bagi hambanya. Allah selalu menyiapkan skenario terbaik yang ada di luar batas nalar manusia. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Manusia hanya tahu apa bisa menginginkan apa yang baik, akan tetapi Allah tahu apa yang lebih baik lagi. Intinya adalah jangan pernah merasa kecewa dan panik dengan wabah penyakit Corona.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad diterangkan bahwa Rasulullah pernah menyinggung masalah wabah penyakit. Beliau menjelaskan bahwa “wabah penyakit merupakan azab yang dikirimkan Allah kepada orang-orang kafir, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat serta syahadah bagi orang-orang yang beriman,”.

Hadits di atas menjelaskan bahwa wabah penyakit, termasuk Coronavirus  merupakan bukti bahwa Allah sangat sayang dan cinta kepada hambanya, dan mereka yang meninggal akibat terinfeksi penyakit tersebut akan mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang mati syahid. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah. Ia yakin bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah dan pasti ada hikmah yang tersirat, maka ia mendapat balasan seperti mati syahid. Namun, bagi orang-orang kafir, wabah penyakit merupakan bentuk azab Allah di dunia.

Sebagai orang beriman tidak perlu panik, berkecil hati dan merasa hawatir secara berlebihan dalam menghadapi cobaan wabah penyakit semacam Coronavirus ini. Hendaklah bersikap positif dan berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan. Sebab, pada hakikatnya Allah memberikan nikmat kepada hambanya dengan melalui wabah panyakit tersebut, namun secara zahirnya terlihat sebagai musibah dan bencana yang merugikan. Untuk itu, kita harus menyikapinya dengan syukur. Cobaan hidup yang mendera setiap manusia akan terasa berat dijalani jika tidak dilalui dengan rasa syukur. Namun, seberat apapun cobaan tersebut, akan terasa ringan ketika manusia menyikapinya dengan syukur. Paling tidak kita menyadari bahwa semua nikmat itu datang dari Allah. Itu sudah merupakan syukur kita kepada Allah.

Syukur bisa dengan bersikap sabar terhadap nikmat yang berbentuk musibah atau cobaan. Menumbuhkan kesadaran seperti ini sangat penting. Karena betapa banyak orang yang tersadar dari perjalanannya yang mengasyikkan setelah tersandung batu. Ibnu Abbas merasa sangat bersyukur dengan hilang penglihatannya pada usia tua. Guru dari pada Ibnu Mubarok ini bertutur sebuah untaian kalimat yang pernah diucapkan oleh Rasulullah, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga, “.

Bersyukur dalam segala musibah dan ujian terutama musibah pandemi Virus Corona dengan menganggapnya sebagai nikmat dapat membuat diri merasa bahagia, senang dan jiwa pun tenang. Senangnya diri dan tenangnya jiwa akan membuat indah kehidupan. Kehidupan yang sementara jika terlihat indah, maka akan terisi dengan amal-amal yang menarik walaupun amal itu begitu berat. Ketika nikmat disikapi dengan sabar, akan membuat yang mendapat nikmat terkendali dari euforia yang melupakan Sang Pemberi nikmat.

Ketika kita bersyukur kepada Allah dalam kondisi apa pun dan menganggap cobaan itu sebagai nikmat, kita dapat mengalami kedamaian dan lembut di tengah-tengah keseng-saraan dan kesedihan. Saat berduka, kita masih dapat bergembira dengan memuji Allah Swt. Saat merasakan sakit, kita dapat bersukacita karena sakit adalah nikmat yang Allah berikan. Saat mengalami kesedihan yang mendalam karena wabah penyakit, kita dapat memiliki keindahan dan ketenangan serta penghiburan karena ingat Allah.

Kita terkadang berpikir bahwa bersyukur adalah terhadap apa yang kita dapatkan dan apa yang kita lakukan setelah masalah-masalah diatasi, tetapi itu adalah sudut pandang yang sangat sempit. Berapa banyak kenikmatan yang akan hilang dalam kehidupan jika kita menunggu untuk menerima apa yang kita inginkan sebelum kita bersyukur kepada Allah Swt. Bersyukur tidak pada saat kita menadaptkan nikmat atau setelah selasainya persoalan, tetapi bersyukur dapat dilakukan dalam kondisi apapun, dan hanya dengan demikian yang membuat kita senang dan tetap bahagia. Bersyukur pada saat-saat pandemi Virus Corona berarti kita senang dan bahagia dengan keadaan kita. Itu berarti bahwa kita menggunakan iman untuk melihat hikmah dan pesan di balik ujian dan cobaan saat ini.

 

Penulis:

Moh. Bakir, Lc.,MA., Dosen STIU Al Mujtama’ Plakpak Pegantenan Pamekasan, dan mahasiswa S3 di PTIQ Jakarta.

0 comments on “Menyikapi Coronavirus Dengan Syukur

Leave a Reply

Your email address will not be published.