Wednesday, 28 October, 2020

Puasa: Menciptakan Kesalehan Ekologis (Tafsir Surah al-Baqarah ayat 183)


Dialeka.com, Dalam ajaran Islam, puasa menempati posisi yang amat urgen, karena ia memiliki efek yang sangat signifikan, termasuk efek pada perilaku terhadap lingkungan hidup atau sekitar.

Secara kebahasaan, puasa diartikan menahan diri dari semua hal yang dapat membatalkan puasa, seperti berhubungan badan di siang hari, makan, minum, dll, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam bahasa Arab, puasa disimbolkan dengan shiyam yang mengandung arti menahan diri dari segala tindakan atau sikap yang merusak makna puasa.

Secara psikologis, praktek ibadah puasa telah memberikan efek yang sangat berarti bagi yang melaksanakannya. Seorang yang berpuasa akan merasakan betul makna lapar dan dahaga. Dari sini, ia akan memiliki empati dan peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung yang ada di sekitarnya. Selain itu, melalui puasa, manusia dilatih untuk menjauhi hal-hal yang hukumnya halal. Melalui latihan ini, hati diajarkan untuk selalu sadar bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi perbuatan kita. Pada titik inilah, puasa mendidik manusia untuk selalu jujur pada hati nurani karena di sana lah ada suara Tuhan.

Selain memiliki makna psikologi, sosial, dan spiritual, puasa juga memiliki makna ekologis yang sangat dalam. Jika kita kembali kepada makna puasa yang dikemukakan di atas, kita akan menemukan bahwa puasa sesungguhnya mendorong kita untuk memiliki cara pandang dan sikap yang ramah lingkungan. Makna dasar puasa adalah menahan diri dari segala tindakan yang membatalkan puasa. Frase “menahan diri dari tindakan membatalkan” tidak hanya dipahami sebatas tidak makan dan minum pada siang hari dan kembali makan saat waktu berbuka. Frasa tersebut menyadarkan kita tentang makna ekologis, di mana umat Islam harus menyadari bahwa puasa seharusnya menyadarkan kita untuk mengetahui dan peduli pada kondisi lingkungan/alam sekitar. Menjaga dan merawat lingkungan agar tidak terjadi kerusakan merupakan bagian inti dari makna puasa secara ekologis.
Puasa: Membangun Kesalehan Ekologis 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, kesalehan adalah ketaatan, ketundukan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah, dan kesungguhan menjalankan ajaran agamanya yang tercermin pada sikap hidupnya. Definisi tersebut memiliki arti sama dengan definisi ketaqwaan, yaitu menjalankan kewajiban yang diperintah oleh Allah dan menjahui perbuatan yang dilarang oleh-Nya.

Maka kesalehan dan ketaqwaan dua jalan sama beribadah kepada Allah untuk membangun nilai-nilai spiritual yang berdimensi ketuhanan, kemanusiaan dan ekologis (lingkunga). Ibadah puasa Ramadhan perspektif surah al-Baqarah ayat 183 bertujuan untuk membentuk manusia yang bertaqwa yang berdimensi ke-Tuhan-an, kemanusiaan dan lingkungan. Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” mengandung pesan ekologis bahwa puasa di bulan suci Ramadhan adalah saat yang tepat untuk membangun kesadaran dan kesalehan ekologis karena bertepatan dengan umat Islam menjalankan ibadah puasa yang mempunyai kesadaran spiritualitas yang lebih baik dibandingkan dengan bulan lain di luar Ramadhan.

Esensi kesalehan ekologis adalah manusia mampu menjaga, melestarikan, mengelola, memperbaiki, dan mendayagunakan lingkungan demi kesejahteraan hidup manusia sekaligus memberikan kenyamanan untuk beribadah dan mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Dengan memiliki kesalehan ekologis, diharapkan tindakan dan sikap manusia semakin ramah dan harmoni terhadap lingkungan hidup sekitarnya, karena manusia juga yang akan merasakan akibatnya apabila tidak bersikap saleh terhadap lingkungan yang ditempati.

Paling tidak, ada dua alasan mendasar membangun kesadaran kesalehan ekologis, yaitu; Pertama, lingkungan hidup beserta sumber daya alamnya yang lestari pada gilirannya akan menjamin keberlanjutan proses pembangunan. Kegiatan pembangunan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia, bahkan dapat merubah tatanan sumber daya alami menjadi sumber daya buatan. Kedua, martabat manusia dan kualitas hidupnya bergantung pada lingkungan tempat hidupnya, dalam arti, baik-buruknya kualitas lingkungan akan berpengaruh pada kualitas hidup manusia di dalamnya.

Manusia memiliki kecenderungan lebih mudah memanfaatkan dan merusak lingkungan hidup, daripada menanam dan menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, membendung nafsu serakah untuk mengeksploitasi alam itu jauh lebih sulit daripada menumbuhkan kesadaran dan kesalehan ekologis.

Di sinilah, perlunya konsep kecerdasan ekologis berkaitan erat dengan makna ibadah puasa sebagaiman tersirat dalam ayat di atas. Secara etimologi, puasa bermakna “menahan” atau “menahan diri dari segala hal yang membatalkan”. Dalam pandangan ulama sufi, puasa mempunyai pengertian yang sangat luas dan tinggi, puasa bukan sekedar menahan makan dan minum sebagaimana menurut terminologi fiqh, tetapi puasa adalah menahan makan dan minum, serta menahan semua anggota tubuh, fikiran dan hati dari segala macam perbuatan dosa.

Ketika sesorang melakukan ibadah puasa tidak hanya dilatih secara spritual dan sosial, tetapi sesunggunya juga dilatih kecerdasannya secara ekologis. Untuk itu, menahan untuk tidak melakukan kerusakan di bumi, menahan untuk tidak membuang sampah bukan pada tempatnya, menahan untuk tidak membuang limbah sembarangan, menahan untuk tidak menggunakan air dengan boros, menahan untuk tidak melakukan pencemaran, menahan untuk tidak mengeksploitasi alam dengan berlebihan, dan sebagainya adalah gambaran dari kesalehan ekologis.

Salah satu tujuan dari ibadah puasa adalah melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama nafsu yang negatif yang membisikkan kepada manusia untuk berbuat buruk. Pengendalian nafsu dengan berpuasa tidak hanya yang bersifat personal, seperti; menahan marah, menahan diri dari yang membatalkan puasa, namun juga menahan nafsu yang berhubungan dengan alam semesta.

Semoga ibadah puasa Ramadhan tahun ini tidak hanya diartikan dengan aktivitas ibadah yang sifatnya hanya berorientasi pada kebutuhan untuk memenuhi spiritual belaka. Akan tetapi, ibadah puasa yang dihiasi dengan perilaku sadar lingkungan sebagai khalifah di bumi.

Penulis:
Moh. Bakir, Akademisi

0 comments on “Puasa: Menciptakan Kesalehan Ekologis (Tafsir Surah al-Baqarah ayat 183)

Leave a Reply

Your email address will not be published.