Wednesday, 28 October, 2020

Refleksi Ideologi Politik Indonesia dan Kewarasan dalam Demokrasi Pancasila


Dialeka.com. Kebrutalan demokrasi bukan salahnya catatan undang-undang, bukan pendek visi dan tujuan para pemangku kebijakan, tetapi kurangnya refleksi dan cara memaknai setiap kalimat dalam amanah konstitusi, catatan yang bisa menghadirkan pelangi kearifan lokal nusantara, yang hari ini kita sebut Ibu Pertiwi, itu membutuhkan kesadaran kolektif untuk membangun sebuah bangsa yang berdaulat adil dan makmur.

Ideologi politik apa yang harus kita gunakan, Prof. Dr. Mr. Soepomo, S.H. menuturkan dengan bijak tanpa menyingkirkan gagasan para perumus tatanan bangsa ini, bahwa ideologi politik yang digunakan oleh Indonesia harus sesuai dengan budaya dan etnisitas bangsa, ideologi yang mengenal tentang seharusnya masyarakat bekerja, juga bagaimana mengatur kekuasaan dan menjalankannya dengan maksimal, supaya ada representasi kebaikan dari generasi ke penerus pemangku kebijakan di bangsa ini.

Kita harus yakin, ketika ideologi politik dan Pancasila sebagai sebuah pijakan, tanpa membuang sedikitpun dari nilai Pancasila dalam sebuah pergerakan dan kesiapan bangsa ini menjadi bangsa yang sesuai dengan amanah konstitusi, yaitu melindungi, mensejahterakan, mencerdaskan dan menjaga ketertiban dunia, teori Pancasila adalah nilai yang digunakan oleh dunia dan Indonesia adalah bapak kandung dari teori tersebut. Sehingga menjadi kerusuhan berfikir, ketika sebuah nilai Pancasila yang dirumuskan dalam beberapa kali sidang, hanya menjadi di catatan normatif tanpa mempengaruhi kesadaran kolektif oleh generasi hari ini, catatan yang termaktub dalam pembukaan undang-undang 1945, adalah konsep dan hasil konsensus untuk diletakkan di sebuah lembar kitab berbangsa dan bernegara. 

Oleh karena itu, diperlukan usaha yang sangat ekstra, terutama di kalangan birokrasi dan elite politik untuk menjadi suri teladan yang baik, yang tidak mementingkan ego sektoral, namun bekerja dengan kegotongroyongan, tidak terbesit di pikirannya untuk melakukan pelanggaran dalam mengemban amanah, tapi selalu terlintas bahwa ada kepentingan rakyat dan kedaulatan umum untuk diperjuangkan. Sehingga pada sila ke-5 itu implementasi dengan baik, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Merawat ideologi politik dengan Pancasila adalah bentuk kerjasama sistem yang dimotori oleh aktor-aktor bangsa, yang kemudian selalu diteladani untuk melahirkan makna filosofis terhadap bangsa ini bekerja dan dijalankan. Bagaimana masyarakat bekerja dan pemerintahan dijalankan, itu sangat tergantung pada siapa pemangku kebijakan.

Semangat kebangsaan kita masih terwarisi dari pejuang kemerdekaan, rasa nasionalisme masih sangat terawat pada semua kalangan pada bangsa ini, tapi lagi-lagi kesadaran pemangku kebijakan itu adalah hal yang prioritas, yang kemudian menjadi acuan atas kemajuan bangsa ini.

Hasil reformasi, harapan besar adalah kebaikan demokrasi, kebaikan sistem dan demokrasi bukan sepintas cuitan politik untuk mengindahkan hasrat personal atau golongan, tetapi lebih pada sebagai pedoman berpolitik, supaya ruang, masukan dan kritik menjadi sarana membangun bangsa ini secara bersama-sama.

Politisi itu sama saja di mana-mana. Mereka berjanji membangun jembatan bahkan di tempat yang tidak ada sungai. ~Nikita Khrushchev, Perdana Menteri Uni Soviet. Hal ini yang harus hilang dari bangsa ini, memberikan tanda manis pada porsi yang berbeda, menambahkan eksistensi pada diri tapi malah mencapai keterpurukan esensi.

Menjadikan ideologi politik dalam penguatan sistem, demokrasi sebagai tampuk roda perjalanan, dan reformasi sebagai catatan emas perjuangan, setiap anak bangsa harus punya refleksi terhadap politik, supaya lahir bangsa yang berdaulat, tidak membenarkan terhadap kesalahan, dan memberikan tindakan kepada kesalahan.

Bangsa ini tidak pernah mempermasalahkan dialektika keilmuan, tidak pernah menjadi sebuah kesalahan diskusi dalam lembar akademik, bahkan bangsa ini terbangun dari tidur penindasan itu karena diskusi dan dialektika atas persoalan, menemukan kesepakatan dan merumuskan untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Estafet kepemimpinan harus bisa memberikan teladan bagi kehidupan rakyatnya.

 

Penulis:
Amiruddin, Mahasiswa Ilmu Politik di UMJ

0 comments on “Refleksi Ideologi Politik Indonesia dan Kewarasan dalam Demokrasi Pancasila

Leave a Reply

Your email address will not be published.