Wednesday, 28 October, 2020

Sistem Pendidikan Online Lebih Mematikan dari Virus Corona


Sistem pendidikan Online Lebih Mematikan dari Virus Corona

Dialeka.com, Jakarta. Melihat situasi Indonesia terhadap adanya virus corona ini yang semakin terus bertambah dari hari ke hari apalagi sampai menyebabkan kematian, tentu saja hal ini juga mengakibatkan adanya keresahan bagi setiap warga terhadap wabah virus covid-19 yang sangat berbahaya. Lalu, pemerintah pun mengambil kebijakan, salah satunya adalah mengadakan sistem lockdown yang bertujuan untuk mengurangi adanya penyebaran virus, dengan cara masyarakat supaya tidak melalukan aktivitas di luar ruangan dalam sementara waktu dan dapat diganti dengan adanya sistem serba online. Khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa agar apapun penginputan tugas dapat dilakukan dengan cara online. Lalu yang menjadi pertanyaanya, “apakah efektif jika kebijakan pemerintah ini terus dilakukan? Dan, bagaimana jika virus ini semakin bertambah ganas, apa upaya selanjutnya? Apakah terus akan mengadakan kebijakan serba online?”

Dapat dipahami, sistem lockdown sendiri  sudah menjadi kebijakan yang harus diterapkan oleh setiap orang. Hal ini dinyatakan dalam opini presiden Joko Widodo, “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, pada Minggu (15/3/2020). Dalam hal ini bekerja dan belajar dari rumah bukan berarti setiap orang cuti atau liburan. Jangan disalahartikan, bahwa bekerja dan belajar di rumah artinya setiap orang tetap melakukan aktivitas mereka sehari-hari lewat sistem berbasis online. Kerja online, kuliah online, dan belajar juga online. Hal inah yang menjadi nilai positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun hal yang sangat disayangkan, meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan dan kemajuan, tetapi hal ini berimbas terhadap adanya krisis pendidikan yang menjadi beban bagi masyarakat, khususnya bagi para pelajar dan juga mahasiswa yang setiap hari selalu dibebani dan disuguhkan dengan tugas-tugas pr dan kuliah yang seambrek-ambrek. Katakanlah, dalam waktu satu hari kira-kira tugas kami ada lima ambrek. Mungkin hal itu masih bisa ditoleransi jika tugas tersebut dikumpulkan pada hari minggu sebagai batas pengumpulan tugas tugas paling akhir. Tetapi bagaimana jika dalam waktu satu hari, tugas kami sebanyak lima ambrek, dan dikumpulkan dalam waktu satu hari itu juga, bahkan dibatasi dengan jam yang ditentukan oleh dosen seenaknya. Ini namanya bukan pendidikan kalau seperti itu, tapi namanya perbudakan dan penindasan.

Dalam hal ini, seolah-olah dosen seperti mengambil keuntungan dan tak memedulikan jam kerja mahasiswa akibat adanya wabah covid-19. Tugas mahasiswa nyata-nyatanya juga bukan hanya tugas dia seorang, tetapi juga diselingi dengan tugas-tugas dosen lain dan dikumpulkan dalam jangka waktu yang tidak memanusiakan. Harusnya dosen melihat hal ini dan mempertimbangkan kematangan berpikir bahwa mahasiswa nyatanya juga manusia bukan seekor kerbau yang terus dikuras tenaganya untuk membajak sawah.

Kalau pendidikan terus diterapkan seperti ini, maka bagaimana masyarakat khususnya generasi muda bisa menjaga imunnya untuk tetap sehat. Sementara, sehat itu bukan hanya sehat jasmani secara fisik, tapi juga sehat pikiran dan rohani. Kalau pikiran sudah sehat, maka ia juga akan sehat secara fisik. Kalau sudah seperti ini, covid-19 yang makin meyebar, belum lagi ditambah pikiran orang-orang yang semakin stress dan memungkinkan hal ini menjadi faktor pendukung untuk menjadi sakit bahkan terjangkit virus.

Okelah kalau misalkan kita belajar di rumah secara online, tapi dosen juga seharusnya melihat situasi dan kondisi mahasiswanya, yang nyatanya sistem pendidikan seperti ini berat bagi kebanyakan mereka walaupun dikatakan menjadi nilai positif untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dosen seharusnya bersikap toleran dengan cara memberikan jangka waktu yang panjang untuk pengumpulan tugas dan tidak berbuat seenaknya dalam memberi dan mengumpulkan tugas. Dan dosen juga seharusnya memahami bahwa tugas mahasiswanya bukan hanya tugas dia seorang. Semua orang memang kapitalis, mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain yang terkena getahnya. Tapi kapitalisme sendiri juga harus diimbangkan dengan sesuatu yang memanusiakan.

Sebenarnya hal ini sangat mengkhawatirkan jika sistem pendidikan terus digalakkan seperti ini. Saya khawatir dan gelisah mahasiswa nantinya akan menjadi ‘alat’ seperti yang dicita-citakan Marx dalam filsafat praksisnya yang dijabarkan oleh Gramsci melalui teori “kesadaran palsu”. “Pergerakan manusia-manusia dipengaruhi oleh seorang berkeberadaan yang menguasai pemikiran ideologis mereka, sehingga apa yang disebut “melakukan” yang terlihat lagi bukan lagi melakukan yanh sebenernya. Sebab, kegiatan “melakukan”yang dikerjakan mereka dipusatkan pada satu pemikiran ideologis yang merasuk-membentuk “kesadaran palsu” sebagai kebutuhan ideologis merek.” (Emhaf, 2018: 20) Artinya secara lahiriah mahasiswa memang mengerjakan tugasnya sampai tuntas, tapi secara batin mereka memberontak dalam dirinya bahwa ini bukanlah suatu keadilan yang sesungguhnya yang diinginkan oleh mereka. Kalau begitu ini namanya pendidikan apa sistem perbudakan?

Lalu apa yang seharusnya dilakukan para generasi muda demi pendidikan dan haknya yang sehat? Mau turun ke jalan mencapai keadilan, tapi takut terjangkit virus. Mahasiswa bisa apa selain seperti layaknya memakan buah simalakama? Inilah hal yang tidak disadari bagi kebanyakan mereka. Mahasiswa akhirnya terus disibukkan dengan pikiran tugas ini, tugas itu, tugas besok, tugas minggu depan tanpa memikirkan dirinya yang juga perlu dimanusiakan. Mungkin saat ini para dosen sedang menikmati secangkir kopinya sambil bersenda gurau dengan anak-keluarganya di rumah tanpa memikirkan mahasiswanya yang lama-lama makin gila dan bodoh karena tugas. Ternyata hal-hal pembodohan massal seperti ini rupa-rupanya ada, terselubung dan perlu disadari dibandingkan memperjuangkan hak rakyat yang ranahnya lebih kompleks. Boleh lah kita menjadi pahlawan bagi orang lain, tapi sebaiknya kita juga memikirkan hak-hak kita juga sebagai mahasiswa yang harus dimanusiakan.

Mulai hari ini, sebaiknya mahasiswa mengenali identitas dirinya. Mahasiswa sekali lagi bukan kerbau yang dikuras tenaganya setiap saat. Kebijakan berpikir dan kecerdikan berpikir mulai harus tumbuh atas inisiatif diri sendiri. Khususnya bagi mahasiswi yang selalu mengeluh atas segala tetek-bengektugas online, saya harapkan untuk mengenali haknya dan tidak lagi  bisu.

 

Penulis:

Azhar Azizah, Mahasiswi UIN Syarif Hidaytullah Jakarta, Jurusan Studi Agama-Agama

0 comments on “Sistem Pendidikan Online Lebih Mematikan dari Virus Corona

Leave a Reply

Your email address will not be published.