Wednesday, 28 October, 2020

Virus Corona: 5 Kandidat Vaksin yang akan rilis pada tahun 2021


Virus Corona: 5 Kandidadat Vaksin yang akan rilis pada tahun 2021

Dialeka.com, Tangerang. Penyebaran CoronaVirus Deases 19 (Covid-19) yang semakin massif dan membuat semua orang khawatir bahkan ketakutan, dalam hal ini, membutuhkan alternatif yang dapat mencegah dan memusnahkan virus ini.

Beberapa Negara dan institusi berlomba-lomba membuat vaksin, namun vaksin memerlukan proses yang panjang sebelum akhirnya dapat digunakan secara luas oleh masyarakat. Dilansir dari Guardian.com pada tanggal 15 April, Kepala penasihat ilmiah Inggris, Sir Patrick Vallance, dan rekannya dari Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengatakan bahwa vaksin tidak akan dirilis sebelum 12-18 bulan pemrosesan. Begitupun yang dikatakan oleh Marian Wentworth, presiden dan CEO Ilmu Manajemen Kesehatan, sebuah organisasi nirlaba global yang berbasis di Massachusetts “Jika Anda menginginkan sebuah produk vaksin yang memungkinkan kita semua untuk melanjutkan hidup, maka kita memang harus menunggu 12 hingga 18 bulan”. 

Dikutip dari jurnal Nature pada 8 April 2020, terdapat 115 kandidat vaksin sedang dalam proses penelitian. 78 kandidat dikonfirmasi aktif dan 37 lainnya disembunyikan dari pandangan publik (status pengembangan tidak tersedia untuk publik). Sebagian besar kandidat vaksin tersebut sedang dalam tahap eksplorasi atau praklinis.

Probabilitas keberhasilan suatu vaksin memang tidak dapat dipastikan. Namun lima perusahaan vaksin di bawah ini memiliki perkembangan paling pesat dalam mengembangkan vaksin untuk melawan pandemi Covid-19. 

 

  1. Moderna Inc.

Sebuah perusahaan bioteknologi yang berasal dari Amerika Serikat ini telah menerima sejumlah dana dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk mengembangkan vaksin berbasis mRNA (mRNA-1273). Dalam empat tahun terakhir, Moderna telah memulai sembilan uji klinis dalam pembuatan vaksin berbasis mRNA. mRNA yang didesain oleh moderna tidak hanya mengandalkan genom pada virus tersebut, namun juga dirancang untuk mengantisipasi kemungkinan adanya perbedaan genetik dari strain virus tersebut.

Sebelumnya, Moderna berkolaborasi dengan National Institutes of Health (NIH) dalam pembuatan vaksin MERS-CoV, meskipun hanya sampai tahap penelitian. Sehingga mereka memiliki cukup pengalaman dalam mengembangkan vaksin mRNA-1273, dan dapat bergerak lebih cepat dibandingkan perusahaan vaksin lainnya.

Pada 7 Februari 2020 Moderna telah mulai melakukan studi klinis fase 1, namun baru pada tanggal 16 Maret 2020 mereka melakukan studi klinisnya pada manusia dan hanya membutuhkan waktu 63 hari setelah genom Covid-19 pertama kali disebarluaskan oleh para ilmuwan Cina pada tanggal 11 Januari. Tahap ini diujikan pada 45 orang dewasa yang sehat dan berusia antara 18-55 tahun.

Saat ini, Moderna bekerjasama dengan FDA dan organisasi pemerintah maupun non-pemerintah lainnya dalam persiapan menghadapi studi klinis Fase 2 yang akan memerlukan subjek lebih banyak. Perusahaan ini diharapkan akan menyeleaikan penelitiannya pada bulan Juni 2021. 

 

  1. Novavax Inc. (NVAX)

Sebuah perusahaan bioteknologi yang berasal dari Gaithersburg, Amerika Serikat ini telah menerima dana dari CEPI sebesar 4 juta USD untuk mengembangkan vaksin rekombinannya. Teknologi vaksin milik Novavax menggabungkan kekuatan dan kecepatan rekayasa genetika untuk secara efisien menghasilkan inovasi dari partikel yang sangat imunogenik. Novavax menggunakan sistem Sf9 untuk membangun nanopartikel  protein F rekombinan yang dapat merakit dirinya menjadi konstruk nanopartikel yang mendekati ukuran virus Respiratory Synctial Virus (RSV), sebuah strategi yang telah terbukti meningkatkan respons kekebalan. Mereka percaya pendekatan rekayasa vaksin rekombinan ini memberikan kekebalan yang kuat dan fungsional, dan dapat diterapkan pada berbagai macam penyakit yang diakibatkan oleh virus, bakteri maupun parasit.

Pada 26 Februari mereka telah memiliki beberapa kandidat vaksin rekombinan untuk studi praklinis hewan dan berencana untuk memulai studi klinis Fase I pada bulan Mei dengan 130 orang dewasa yang sehat.

 

  1. Johnson & Johnson (JNJ)

Sebuah perusahaan farmasi yang berasal dari New Brunswick, Amerika Serikat ini telah menerima dana dari BARDA sebesar 1 miliar USD untuk program vaksin yang memanfaatkan teknologi AdVac® dan PER.C6® yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan kandidat vaksin secara cepat dan optimal. Teknologi yang sama digunakan untuk mengembangkan dan memproduksi vaksin Ebola, vaksin Zika, RSV, dan HIV yang berada dalam tahap studi klinis Fase 2 atau Fase 3.

Tim peneliti di JnJ telah bekerja sama sejak Januari 2020 dengan Beth Israel Deaconess Medical Center, bagian dari Harvard Medical School, untuk menciptakan beberapa kandidat vaksin yang telah diuji tahap prakilinis pada tanggal 13 Maret di Boston. Pada 30 Maret lalu mereka telah mengidentifikasi kandidat vaksin utama yang diberi nama vaksin TBD dan akan melakukan studi klinis Fase 1 paling lambat pada bulan September 2020.

 

  1. Inovio Pharmaceuticals Inc. (INO)

Sebuah perusahaan bioteknologi yang berasal dari Pennsylvania, Amerika Serikat ini telah menerima dana dari CEPI sebesar 9 juta USD. Tidak hanya didanai CEPI, perusahaan ini juga mendapat hibah dana sebesar 5 juta USD dari Bill & Melinda Gates Foundation, dan 11,9 juta USD dari Ology Bioservices Inc., sebuah badan militer yang mendukung adanya perlawanan pada senjata pembunuh massal.

Inovio mengembangkan vaksin berbasis DNA yaitu INO-4800. sebelum membuat vaksin INO-4800, Inovio pernah membuat vaksin INO-4700 yang dipakai saat pengobatan MERS-CoV dan dapat meningkatkan 94% kekebalan tubuh pasien. Vaksin INO-4800 telah melakukan uji praklinis pada 23 Januari – 29 Februari dan telah mulai studi klinis Fase 1 di bulan April pada 40 orang dewasa sehat di dua lokasi di AS: Sekolah Kedokteran Perelman di Universitas Pennsylvania dan Pusat Penelitian Farmasi di Kansas City. Mereka juga berencana untuk studi klinis di Cina dan Korea Selatan pada bulan yang sama, dan menyiapkan 3.000 untuk uji coba di setiap negara.

 

  1. CanSino Biologics Inc. (CanSinoBIO)

Sebuah perusahaan biofarmasi yang berasal dari Tianjin, Cina ini bekerja sama dengan Beijing Institute of Biotechnology (BIB) untuk mengembangkan vaksin berbasis adenovirus (Ad5 -nCoV) yang sebelumnya juga telah diterapkan untuk mengembangkan vaksin virus Ebola (Ad5-EBOV) dan telah menerima persetujuan Non-Discloseru Agreement (NDA) di Cina pada Oktober 2017.

Hasil dari (Ad5-nCoV) pada studi hewan praklinis menunjukkan bahwa kandidat vaksin ini dapat menginduksi respon imun yang baik pada model hewan. Studi keselamatan hewan praklinis juga menunjukkan profil keamanan yang baik. Sehingga pada tanggal 17 Maret 2020, perusahaan ini telah disetujui untuk memasuki studi klinis fase I dengan 7 kandidat vaksinnya.

Upaya para peneliti dan perusahaan dalam mengembangkan vaksin Covid-19 secara global mengharuskan adanya kecepatan dan ketelitian yang tinggi, terdapat indikasi bahwa vaksin untuk penggunaan darurat dapat diperoleh pada awal 2021. Peristiwa ini akan mewakili perubahan langkah mendasar dari jalur pengembangan vaksin tradisional, yang memakan waktu rata-rata lebih dari 10 tahun, bahkan jika dibandingkan dengan skala pengembangan vaksin Ebola pertama pun memerlukan waktu selama lima tahun. (Nova kh)

 

0 comments on “Virus Corona: 5 Kandidat Vaksin yang akan rilis pada tahun 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.