Wednesday, 28 October, 2020

Mahasiswa UMJ Mengirim Surat Terbuka Kepada Pimpinan Kampus


Dialeka.com, Tangsel. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Lutfiadi mengirim surat terbuka kepada pimpinan kampus UMJ yang berisi keluhan dan tuntutan atas kebijakan yang dibuat oleh pimpinan kampus tersebut saat dalam masa pandemi.

Dalam surat terbuka tersebut, Lutfiadi mengeluh dan menyayangkan respon Wakil Rektor (Warek) III terhadap keluhan dan tuntutan mahasiswa UMJ yang digaungkan mulai dari yang berbentuk petisi hingga surat kabar duka. Karena respon tersebut disampaikan melalui pesan yang disebarluaskan melalui aplikasi WhatsApp dan Line.

” Kami sangat menyayangkan respon tersebut yang hanya disampaikan melalui pesan WhatsApp tersebut. Kami memang sengaja menunggu dikeluarkan keputusan atau surat resmi yang disampaikan kepada seluruh mahasiswa. Namun sampai saat ini, surat yang kami maksud belum muncul – muncul juga,” kata Lutfiadi.

Selain itu, mahasiswa hukum tersebut mengkritik mulai dari belajar online sampai Kuliah Kerja Nyata (KKN) online. KKN online menurutnya harus ada sosialisasi terbuka terlebih dahulu agar tidak terjadi salah penafsiran dalam menerapkan sistem yang belum jelas dan pengalokasian dana dalam pelaksanaannya.

” menurut saya harus diadakannya sosialisasi terbuka atas persoalan tersebut,” ujarnya.

Berikut isi surat terbuka dari Lutfiadi:

*Surat Terbuka Kepada Yth,*
*Pimpinan Universitas Muhammadiyah Jakarta*

_Assalamualaikum Warahamatullahi wabarakatuh._

Salam Kenal Bapak/ibu pimpinan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Saya Lutfiadi. mahasiswa Fakultas Hukum yang senantiasa menaruh hormat kepada Bapak/Ibu pimpinan universitas sekalian.

Sejak awal munculnya pandemic covid-19 di Indonesia , Maka terhitung pula hari senin, 16 Maret 2020 hingga saat ini Univeritas Muhammadiyah Jakarta mengeluarkan kebijakan dengan mengubah Kegiatan Belajar Mengajar dari bentuk tatap muka menjadi pembelajaran e-learning di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Hal ini tentu telah melalui pertimbangan dengan matang sebagai bentuk pencegahan terhadap civitas akademik Universitas Muhammadiyah Jakarta atas penyebaran corona virus ini.

Bersamaan dengan itu muncul pula keluhan dan tuntutan dari para mahasiswa yang disampaikan dengan berbagai macam cara, Mulai dari yang berbentuk petisi hingga yang terakhir surat kabar duka. Tentu dari semua tuntutan itu kami mahasiswa mengharapkan respon positif dari Bapak/Ibu pimpinan Universitas yang terhormat.Alhamdulillah setalah kami tunggu-tunggu respon dari para pimpinan akhirnya keluar juga, yakni dari wakil rektor III bapak Dr. Misriandi yang disampaikan melalui pesan beliau yang disebar luaskan melalui Whatsapp dan line. Namun ada beberapa cacatan yang ingin kami sampaikan terkait dengan respon tersebut.

Pertama kami sangat menyayangkan respon tersebut yang hanya disampaikan melalui pesan whatsapp tersebut. Kami memang sengaja menunggu dikeluarkan keputusan atau surat resmi yang disampaikan kepada seluruh mahasiswa namun sampai saat ini surat yang kami maksut belum muncul-muncul juga. Tentu semua pihak tahu bahwa UMJ merupakan Institusi resmi yang punya sistem administrasi yang jelas sehingga jika memang keputusan tersebut adalah bentuk keputusan yang resmi maka seharusnya yang diedarkan adalah keputusan resmi universitas bukan hanya pesan salah satu pimpinan atau pun melalui BEM U yang saat ini sepertinya sibuk menangani Covid 19 dan Politik nasional sehingga BEM U tidak sempat untuk menyampaikan hal ini. Sehingga sampai saat inipun kami masih menunggu surat resmi yang dikeluarkan oleh Universitas.

Kadua. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa bagi mahasiswa yang memang tidak mampu untuk dalam hal kaungan maka diharuskan untuk mengajukan ke bagian keuangan masing-masing fakultas yang nantinya pihak keuangan akan mempertimbangkan keadaan mahasiswa yang mengajukan. Menurut kami informasi yang disampaikan tidak utuh, harus ada informasi yang jelas terkait pertimbangan apa yang akan menjadi tolak ukur mahasiswa tersebut dapat dikategorikan sebagai mahasiswa yang tidak mampu dalam keuangan karena dampak Pendemi ini. Maka dari itu dikeluarkannya surat edaran yang resmi dari pihak universitas yang disertai dengan kriteria dan syarat-syarat pengajuan sebagai mahasiswa yang tidak mampu merupakan solusi yang jelas bagi kami mahasiswa.

Selain untuk menyampaikan saran dan kritik terkait pesan yang disampaikan oleh salah satu pimpinan tersebut izinkan pula kami menyampaikan keluhan dan evaluasi terkait dengan e-learning yang selama ini dilakukan.

Yang Pertama, Sejak diberlakukannya e-learning tersebut saya dan teman-teman berpendapat bahwa Universitas Muhammadiyah Jakarta belum mampu menciptakan system pembelajaran yang efektif. Mengapa demikian? Sistem pembelajaran tersebut hanya dibebankan kepada dosen secara individu untuk melakukan pembelajaran dengan caranya masing-masing. sehingga dosen memiliki beban tersendiri untuk menyesuaikan konsep dan waktu ajarnya dengan dosen-dosen lain. hal ini pula menuntut mahasiswa untuk fokus memahami konsep pembelajaran yang berbeda-beda dari setiap dosen.

Bapak/ibu pimpinan yang terhormat, saya dan teman-teman berpendapat bahwa di era globalisasi sekarang, masih banyak dosen UMJ yang belum sadar akan pentingnya teknologi dalam sistem pendidikan. sehingga berakibat kepada lambatnya proses peneransferan ilmu yang kami serap. Bahkan hingga saat ini ada beberapa dosen yang vakum mengajar tanpa memberikan ilmu yang seharusnya saya dan teman-teman dapat. dengan posisi tersebut kami selaku mahasiswa merasa dirugikan baik dari segi pengetahuan maupun materi yang kami keluarkan.

Bapak/ibu pimpinan Universitas yang terhormat, perlu kita ketahui pula meluasnya wabah tersebut berdampak pada perekonomian di Indonesia, tutupnya banyak sektor perekonomian mengakibatkan banyak masyarakat Indonesia yang kehilangan pekerjaan dan penghasilannya. Dalam kondisi serba sulit ini tentu juga berdampak pula kepada mahasiswa. Saya sempat membaca dimedia kampus bahwa, Universitas Muhammadiyah Jakarta memberikan subsidi kuota intenet bagi mahasiswa sebanyak Rp. 100.000/bulan selama 3 bulan terhitung sejak (April-Juni). Hal ini yang menjadi keluhan ketiga saya, saya merasa bahwa dengan mahalnya harga kuota di Indonesia dan jumlah byte yang dikeluarkan sangat besar sehingga saya menilai Rp.100.000 perbulan sangat tidak relevan dan tidak cukup untuk digunakan pada konsep pembelajaran yang cendurung berbasis video. Ditambah lagi banyak mahasiswa yang sudah pulang kekampung halaman dan kondisinya tidak memiliki jaringan internet yang bagus. Tentu penilaian terhadap semester kali ini tidak dimungkinkan apabila hanya dilihat dari jumlah absensi kehadiran teman-teman saja.

Bapak/ibu yang terhormat, selanjutnya saya dan teman-teman mengeluhkan atas besaran biaya kuliah yang seharusnya atas besaran tersebut kami mendapatkan fasilitas yang cukup memadai seperti biasa. Dari mulai fasilitas publik seperti lapangan olahraga, greenpark sampai fasilitas yang ada difakultas seperti ruang kelas yang nyaman, listrik, serta jaringan wifi, Ditengah pandemi covid-19 kali ini kami merasa tidak menggunakan fasilitas tersebut, begitu pula dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang tentunya sudah ada anggaran khusus untuk melaksanakan kegiatan tersebut dan kami rasa semua kegiatan kemahasiswaan tersebut mandeg akibat adanya Covid 19 sehingga anggaran yang seharusnya digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan akhirnya tidak digunakan oleh lembaga kemahasiswaan. sehingga menurut kami seharusnya ada potongan biaya kuliah atas kerugian yang kami terima tersebut. Apalagi saya berfikir bahwa biaya normal yang saya dan teman-teman keluarkan sangat tidak relefan dengan apa yang kami dapatkan. Dan dikhawatirkan banyak mahasiswa yang mengundurkan diri atau tidak aktif dikarenakan besaran biaya tersebut

Bapak/ibu yang terhormat, saya mewakili teman-teman juga mengeluhkan terhadap KKN Online karena masih belum ada sosialisasi yang jelas dari lembaga yang menaungi KKN itu sendiri. Sehingga dikhawatirkan dengan hal ini ada salah penafsiran terhadap sistem yang tidak jelas dan proses dari pelaksanaan kegiatan tersebut, serta alokasi biaya yang diterapkan. menurut saya harus diadakannya sosialisasi terbuka atas persoalan tersebut.

Bapak/ibu Yang terhormat, Mari kita berkaca melihat kembali pemikiran dari Pahlawan Bangsa yakni KH Ahmad Dahlan, dimana menurut beliau pendidikan hendaknya diarahkan pada usaha membentuk budi manusia, alim dalam beragama, luas pandangan, paham ilmu dunia, serta berusaha berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.

Oleh sebab itu Bapak/ibu saya paham Bapak/Ibu Pimpinan memiliki tanggungjawab yang berat karena mengemban amanah dari umat. kami para mahasiswa mengharapkan penuruan atas biaya kuliah yang kami keluarkan semester ini. seperti keluhan yang saya jabarkan tadi. mari kita ciptakan sejarah di periode bapak/ibu sekarang ini, Bapak/ibu akan menjadi saksi dalam sejarah hidup kami. Dan bapak/ibu akan dijadikan contoh Pimpinan universitas lain di Indonesia. Serta teman-teman mahasiswa akan mengenang jasa bapak/ibu pimpinan. Kamipun mengamini ajakan untuk memajukan UMJ dengan banyak mengukir prestasi, Insha Allah jika bersatu padu dan saling memahami satu sama lain, maka keemasan UMJ akan segera kita capai

Mohon Maaf Bapak/Ibu , Apabila saya lancang dalam menyuarakan keluhan akan hal ini, semua berangkat dari hati nurani dan keresahan mahasiswa dan yang saya alami. Bukan politisasi apalagi bisikan para oligarki. Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan, Saya mohon dengan sangat agar Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan keluhan tersebut serta memberikan solusi yang tepat berbentuk edaran resmi agar tidak terjadi lagi simpang siur atas info yang kami dapat. Semoga bapak/Ibu diberikan kesehatan dan kesuksesan selalu.

_Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh._

Jakarta,09 Juni 2020

Lutfiadi

0 comments on “Mahasiswa UMJ Mengirim Surat Terbuka Kepada Pimpinan Kampus

Leave a Reply

Your email address will not be published.