Wednesday, 28 October, 2020

Arim The Dreamer of Good Future


Arim The Dreamer Of Good Future

Empat tahun merupakan usia yang masih sangat dini dan labil serta sangatlah tidak pantas untuk menjadi siswi. Tapi beda dengan bocah satu ini, bocah aneh, kumal, dan lusuh yang hari-harinya hanya ia habiskan dengan merendam diri di sungai dekat rumahnya. Gadis kecil yang menurut semua orang akan menjadi gadis jalanan tak terurus yang tak pernah dianggap keberadaannya, wajar saja mereka berasumsi seperti itu, karena kondisi hidup yang dijalaninya sungguh terlalu menyesakkan dada dan serba kekurangan. Namun, keterbatasan yang ia miliki ini tidak pernah membuat daya berpikirnya terbatas. Dia anak cerdas, bahkan hal itulah yang mendorong dirinya untuk lebih berantusias dalam menapaki jaring-jaring kehidupan.

Dalam sanubari terdalamnya tertancap tombak keoptimisan, sehingga dia punya impian.

“Arim pengen jadi apa kalau gede nanti?” Tanya salah seorang guru di sekolahnya.

“Arim Cuma pengen jadi orang bisa, pak” tukasnya tanpa ragu. Apakah itu sebuah impian? Ya, bagi dirinya yang teramat berbeda dengan teman-temannya, hal itu merupakan impian besar dalam hidup, yang sangat jarang dimiliki orang-orang. Itulah satu-satunya impian terbesar gadis kumuh ini, dalam sepi, ramai sekalipun, dalam senang, sedih sekalipun. Tapi bagi teman-teman sebayanya atau yang lebih dewasa itu hanyalah sebuah mimpi yang biasa, kuno, katro, konvensional, dan sangat kampungan.

“Ibu, Arim mau jadi orang bisa” ucapnya pada sang ibu yang tengah sibuk mengiris kerupuk mentah buatannya, usaha kecil-kecilan yang penghasilannya tak cukup makan keluarga. Arim kecil mengucapkan kalimat itu dengan pandangan menengadah ke langit, akalnya menerawang ke ruang angkasa imajinasinya.

Teman sebayanya tak mau bergaul dengan gadis kecil ini. Tapi dia punya teman yang sangat berarti, teman sekaligus paman yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. Faris. Ia merupakan adek kandung ibu Arim. Kedua anak itu sudah seperti saudara yang tak bisa dipisahkan.

***

Suara kayuhan becak butut dan pantulan roda yang sudah sedikit halus menjadi irama nada sendu bagi pria kurus yang bernama Pak Udin, bapak Arim. Ayunan kakinya yang sudah kebas menelusuri jalanan panjang mulai menerbangkan pikirannya, mengembalikan kesadaran tentang dirinya yang telah gagal menjadi tongkat keluarga.  Tak pernah tampak di wajah Tukang becak jebolan pengangguran itu garis-garis keletihan dan kepayahan, ia sabar dan tabah menjalani kemelaratan hidup, memenuhi sebagian kebutuhan keluarga hanya dengan kayuhan becak karatannya. Terkadang ia merasa malu pada tetangga saat meminjam uang untuk kebutuhan sekolah Arim dan Faris.

“Bu, Arim, Faris… maafkan bapak ya, bapak tidak bisa memberi kebahagiaan pada kalian. Pasca isya’, saat mereka makan malam yang menunya hanya seadanya saja, nasi jagung dengan lauk tahu anyep dan tempe yang dipotong kecil-kecil dan tipis, ucapan pak udin tadi membuat Bu Rita, istrinya menangis sesenggukan. Tapi tiba-tiba, Arim langsung beranjak memeluk erat ibunya.

“Bapak, Ibu, kalian tidak usah bersedih dengan kekurangan ini, jangan menangis dengan keadaan kita yang seperti ini, karena Arim dan Maman Faris akan menjadi orang bisa nanti, ia kan Man?” masih dengan tubuh mungilnya ia berkaca pinggang seolah-olah ia adalah seorang guru yang sedang memberi nasehat pada murudnya yang nakal. Bapak ibunya hanya bisa tersenyum simpul menggelengkan kepala. “Arim, Faris, kalian memang harapan kami” batin Bu Rita bergumam seraya mengusap Kristal bening di ekor matanya.

“Sudah, sudah, cepat habisi makanan kalian, setelah ini langsung tidur!” wanita penyabar itu mengibaskan tangannya.

Di rumah itu tak ada kamar, daun pintunya hanya satu yaitu di pintu masuk, karena tempat itu tak pantas dikatakan rumah, ia layak ditempati hewan liar dan piaraan. Bagaimana tidak? Dinding-dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu yang sudah berusia tahunan, sudah rapuh dimakan rayap, bagian bawahnya sudah bolong tak karuan, sehingga kucing saja bebas keluar masuk kapan saja. Sebelum tidur, ngobrol merupakan rutinitas wajib yang tak bisa ditinggalkan oleh Arim dan Faris, saling berkhayal tentang mimpi-mimpi mereka dan akan menjadi apa mereka di masa depan, sampai tanpa disadari  mereka sudah berenang di laut mimpi-mimpi indahnya.

***

Gema takbir dan kalam-kalam agung yang terselip dalam dentingan adzan memekik indah pada gendang telinga para muslim di desa Langkelleng, Ketapang itu. Merasuk ke relung-relung hati para hamba dan melengking syahdu dalam jiwa-jiwa insan di segala penjuru desa. Arim sekeluarga sudah sejak tadi menunggu kumandang adzan setelah menunaikan sholat sunnah tahajjud yang merupakan kegiatan rutin mereka.

Dua tahun telah berlalu. Tirai kematian mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Arim sudah berusia enam tahun, sedangkan Faris Sembilan tahun. Bagi keluarga ini perjalan hidup sangatlah berharga dan dihadapi dengan keikhlasan. Pak Udin jarang ada di rumah, ia punya becak dan dijadikan penghasilan utamanya. setiap hari,  berangkatnya pagi buta dan pulang kala langit mengantarkan senja. Kabar baiknya adalah gadis kecil itu sudah mempunyai teman baru, adek lelaki yang baru berusia satu tahun.

Pada suatu malam, saat Arim dan Faris sedang asyik-asyiknya ngobrol di halaman rumah, tepat di bawah pohon manga, mereka mendengar suara khas memanggilnya.

“Faris, Arim! Sini nak!” kepala Bu Rita menghilang di balik pintu. Lalu kedua anak itu langsung berlompatan dan menyusuri anak tangga yang terbuat dari tanah liat, mereka terus menapaki lantai tanah menuju “lincak”  tempat mereka ngobrol. Sesampainya di sana, kedua anak itu merasa ada yang aneh, di lincak persegi panjang itu terdapat banyak orang, dua paman, mbah pemilik sekolah, dan pak Udin yang sedang menundukkan kepalanya. Suasananya hening, hanya suara desahan nafas bu Rita dan Pak Taha. Tanpa disuruh Arim langsung duduk di pangkuan ibunya yang dari tadi pandangannya tak lepas dari manik mata anak sulungnya itu. Faris di sampingnya.

“ini ada apa mbak?” Tanya faris tiba-tiba, ia tak bisa membendung keingintahuan di dalam benaknya “kok ada paman dan mbah?” lanjut anak itu. Tak ada jawaban. Semuanya diam.

“kenapa semuanya diam, Bu?” kali Arim yang bersuara. Masih memandang ibu terkasihnya, bingung. Ia melihat kedua mata ibunya, di sana tersimpan kesedihan yang sangat mendalam dan seulas senyum terpaksa dari bibir bu Rita. Tapi tiba-tiba “Cess….!” Tetesan bening membasahi kening Arim, gadis itu merasakannya. Dingin. Percikan sejuk itu bersumber dari kelopak mata ibunya. Ia tak tahan menahan isak tangis. Sedangkan anak di pangkuannya hanya memandang heran dan menyentuh keningnya yang basah.

“Ibu kenapa Pak?” saat menoleh kearah pak Udin, ia mendapatkannya juga sedang menangis sesenggukan. Semakin heran, dirinya mulai penasaran. Kemudian dipandangilah semua orang yang ada di sana, tetap taka da respon. Isak tangis pak Udin dan bu Rita semakin menjadi jadi. 

“Mbah, apakah Mbah juga akan diam?” Faris yang dari tadi diam juga angkat bicara. Pertanyaan itu beralih pada pak Taha, kemudian dengan senyuman tua di pipinya yang keriput.         

“Nak, maafkan bapak dan ibumu ya…” orang tua itu memperbaiki posisi dan kaca matanya “besok, ibumu akan pergi” ucapnya terbata-bata. Tangan kasarnya mengelus kepala Arim dan Faris. Mendengar itu Arim kaget bukan main. Selama ini ia tak pernah berpisah dengan ibunya.

“Mau pergi kemana, Mbah?” tanyanya pelan dengan wajah polos    “ke mekah….” Singkat. Pak Taha langsung memalingkan wajanya untuk menghapus air matanya yang dari tadi sudah menganak sungai, dia tidak tega melihat bocah enam tahun ini ditinggal ibunya. Tapi sangat mengherankan, bukan raut sedih yang Arim tampakkan tapi seakan-akan dia mendukung kepergian ibunya.

“Oh iya? Berarti ibu mau haji dong? Iya kan Bu?” matanya merah tertahan, ia langsung beringsut dari pangkuan bu Rita. Bertingkah seakan-akan ia tak keberatan sama sekali. Inilah rahasia gadis ini, hingga dewasa pun ia suka menyembunyikan kesedihan dari orang-orang, terlebih orang tuanya.  Adapun bu Rita, sama sekali ia tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu. Lidahnya kelu. Kalimatnya tersendat di tenggorokan. Suaranya pun hilang.

“oh iya, ibu berangkatnya pakai uang siapa? Kan kita nggak pernah punya uang lebih, BU? Katanya bapak pergi ke Mekkah itu ongkosnya sangat mahal.” Wajahnya tertunduk. Tetap tak satupun ada orang yang bisa menjawab pertanyaan anak kecil ini. “bagus dong, kalau ibu mau pergi haji, berarti ibu akan mampir ke rumah Rosulullah?” lanjt Arim dan melanjutkan “tapi……” tiba-tiba wajah segar itu menjadi layu, kesedihan yang dari tadi bersembunyi sudah terdengar sangat pilu, tampak jelas di mata lebarnya. “… kalau Ibu pergi, Arim dan maman Faris sama siapa di sini? Arim tidur sama siapa? Arim makan ke siapa? Ngaji ke siapa? Biasanya kan ibu selalu mengajari Arim dan Maman mengaji dan bacaan sholat. Kalau ibu pergi dan bapak kerja siapa yang akan jaga adek? Adik kan masih kecil bu! Arimkan masih kecil, pastinya Arim tak bisa menggendong adek. Ibu, Arim dan Maman nggak punya temen, anak-anak di sekolah nggak ada yang mau berteman dengan Arim dan Maman, katanya kami jelek, baud dan nakal, kalau Arim, Maman, dan adek sakit gimana? Siapa yang mau merawat kami? Kata anak-anak Arim anak orang miskin yang sekolah Cuma pakek sandal  jepit, tak punya uang saku untuk beli jajan, sehingga kami membawa kerupuk buatan ibu ke sekolah, biar Arim juga bisa makan jajan saat jam istirahat. Ibu pernah janji kan kalau ibu mau beliin Arim dan Maman tas sekolah? Yang mau membimbing Arim puasa tahun depan siapa? Yang mau beliin Arim dan Maman baju baru juga siapa? Yang mau meluk Arim saat keidnginan siapa bu? Arim takuutt… Arim akan kesepian tanpa ibu, kalau ibu per…”

“Deg!”

 “Cukup Arim! Ini bukan kemauan ibu untuk meninggalkan kalian…” lengkap sudah. Semua yang ada di ruangan itu menangis tersedu-sedu saat mendengar keluhan bocah kecil tadi. Arim telah melukai hati bu Rita dengan air matanya. Arim yang memang dari kecil mempunyai rasa takut pada ‘perpisahan’.

“tapi, kenapa Ibu baru bilang sekarang kalau ibu akan pergi? Arim belum sempet memandang wajah ibu lekat-lekat, Arim belum siap ditinggal ibu. Arim belum siap kangen sama ibu. Belum siap tidur tanpa belaian ibu” pada saat itu juga, tangisan yang dari tadi ia tahan hingga membuat matanya merah, meledaklah di hadapan ibunya,ia jatuh ke pelukan hangat bu Rita “kalau Arim lagi kangen ibu, Arim peluk siapa bu..?” masih saja dia mengiris hati Bu Rita.

***

Suara gaduh anak-anak bermain kelereng di depan masjid Ar-Rohman memekakkan telinga Arim dan Faris, mereka ingin seperti mereka. Tertawa lepas , main kejar-kejaran, dan punya banyak teman. Arim mulai merasakan getirnya kehidupan sejak ibunya pergi ke Jeddah. Sudah dua bulan mereka menjalani hidup tanpa seorang ibu, hanya Pak Udin, Faris, dan Ahmad adeknya.  Tapi pak Udin jarang pulang, kadang dia tidur di tempat kerjanya, sehingga Arim hanya tinggal bertiga di rumah reyot itu. Bayangkan saja anak seusia Arim  diberi beban seberat itu, menjaga adik yang sudah sakit-sakitan, bapaknya jarang pulang, bahkan terkadang kalau pak Udin tidak pulang mereka tidak makan. Semuanya kurus, kering, tak bergizi, lebih-lebih Ahmad, balita satu tahun sudah ditinggal ibu yang kasih sayangnya sangat ia butuhkan, dia hanya dijaga kakak usia enam tahun. Dia sering sakit, diare, batuk, muntah darah. Hal itu sudah sangat lama, pak Udin sudah tahu, tapi masih saja dia sibuk kerja, tak pernah dibawa ke puskesmas karena taka ada uang sama sekali.

Penderitaan berat dan hidup sekarat masih Arim jalani, tapi dia tidak pernah sedih karena jiwanya yang masih sangat labil, tak ada keluh tak ada tangis. Hanya saja, saat dia ditelpon ibunya, waktu itu masih tidak ada telpon genggam, hanya telpon rumah milik keluarga kaya di kampong itu, pada saat-saat itulah air matanya tumpah dan tak bisa berbicara dengna bu Rita. Ia baru sadar, bahwa sekarang ia hidup tanpa ibu di sampingnya, ia baru sadar bahwa selama dua bulan ini ia tengah melawan rindu pada seseorang yang sejak kepergiannya dunia terasa gelap gulita, seseorang yang teramat berarti dalam hidupnya, dia dahaga belaian lembutnya, cerita-ceritanya sebelum tidur, terikannya saat bermain hujan. Ibu. Ya, seorang ibu. Saat ini ia sangat membutuhkannya, untuk dirinya sendiri dan adiknya yang selalu sakit parah.

“Bu, adek sakit. Arim nggak tahu bagaimana merawatnya, bapak selalu kerja. Sehingga Arim dan Maman nggak fokus sekolah. Arim sering menjatuhkan adek dari gendongan, karena sebelum berangkat ibu tak pernah mengajari Arim menggendong…” tangisnya pecah, gemetar semua tubuhnya, sungguh malang nasib gadis kecil ini“… dan ibu nggak pernah bilang kalau hidup nggak ada ibu akan sesedih ini..” hanya perkataan itu yang bisa ia lontarkan via telpon rumah itu, sehabisnya ia tak tahu jawaban apa dari seberang sana, karena setelah menyampaikan kalimat itu telponnya langsung diberikan pada pak Udin. Ia terisak tak dapat ditahan. Gelombang rindu sedang menghantamnya. Rindu memang menyakitkan, ia lembut namun mengiris kalbu yang tak pernah ada ia bersalah. Semakin sering ia berbicara dengan bu Rita, semakin merana hatinya dibuat menggebu oleh kobaran rindunya.

Suatu ketika Ahmad sedang tertidur pulas, sedangkan Arim dan Faris menjaga di sanping kanan kirinya, menjaga takut tiba-tiba bangun atau ada nyamuk yang hinggap ke wajah tanpa dosa itu. Sedangkan pak Udin sedang menggoreng tahu untuk lauk hari ini. Arim memandang Ahmad dengan pandangan kasih sayang dan penuh cinta. Ia terus memandanginya lekat-lekat, matanya, pipinya, bibirnya, hidungnya, rambutnya, dan keningnya yang agak berpeluh rintik-rintik, ah, ternyata balita ini sangat kekurangan gizi, kurus dan tidak segar, kemudian Arim mencium dan memeluk adeknya agak kuat dan lama, ia merasa iba dan sayang pada adek satu-satunya, harus hidup tanpa kasih sayang ibu, terus ia memeluknya erat, pegangannya sangat erat pula. Tapi, ia merasakan hal yang ganjil. Aneh dan heran dalam dirinya, ia mencium adeknya sangat erat dan lama tapi ia tak bangun-bangun, tak bergerak sama sekali. Kedua anak sudah mulai panik. Lalu ia pegang tangan dan keningnya. Oh… tak lagi demam. Dingin. Ia langsung memanggil bapaknya

“Pak…!! Bapak! Adek kenapa pak? Adek nggak bergerak!” pak Udin yang mendengar itu beringsut bangun dari tempat duduknya di depan tungku. Refleks ia membuang sutil dan gorengan tahu yang ada di tangannya sehingga berserakan di lantai tanah yang kotor itu. Jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya terasa berhenti. Pak Udin langsung berlari menuju lincak tempat anak-anaknya duduk.

“Ahmad! Nak! Ahmad..!! bangun sayang!!..” NIHIL. Ia menggoncang-goncangkan tubuh ringkih Ahmad, tetap tak ada reaksi apa-apa. Tanpa berpikir panjang ia berlari keluar, menyusuri jalanan lengang, ke rumah pak Taha , mbahnya Arim. Kemudian ia memeriksanya, mulai dari denyut nadi, hembusan nafas, dan detak jantungnya. Sedangkan Arim dan Faris hanya bungkam, bingung apa yang akan terjadi. 

“Paman, Ahmad kenapa? Apa yang telah terjadi?” Tanya pak Udin gemetar, nada bicaranya sangat penuh kekhawatiran disertai linangan air mata. Dan… inna lillahi wa inna ilia roji’uun… seolah-olah ada halilintar raksasa yang menampar relung hati pak Udin, Arim, dan Faris. Bibirnya gemetar, tanpa henti melafalkan tarji’ dan istighfar, syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Dia memeluk erat tubuh Ahmad yang sudah tak bernyawa lagi. Linangan air matanya sudah tak bisa ia bendung. Cobaan terus saja menghantam keluarga miskin itu. Dari kehidupannya yang sangat melarat. Ditinggal istri tercinta dengan dua anak yang masih kecil, dan sekarang si bungsu sudah taka da lagi “bapak macam apa aku ini” hatinya memekik, tertunduk lesu. Saat itu bu Rita baru genap tiga bulan di Arab Saudi, setelah ia tahu bahwa anak bungsunya telah meninggal, hanya isak tangis yang terdengar dari balik telpon hingga sambungan itu tertutup.

***

Sekarang Arim hanya selalu berdua dengan Faris, pak Udin semakin sering tidak pulang. Mereka sudah tak lagi tidur di rumah reot itu, karena di sana mereka sudah mulai merasakan takut, rumah itu seram dan angker seperti tak berpenghuni, mereka tinggal di sana hanya di siang hari saja. Malamnya mereka tidur di rumah pak Taha.

Arim, gadis kecil yang malang, sudah tidak bersedih karena ibunya pergi. Dia sudah tak peduli. Bahkan sekarang bapaknya juga mulai acuh tak acuh pada mereka. Ia mengurus dirinya sendiri. Di saat keluarganya masih lengkap, pagi-pagi seperti ini mereka sarapan bersama, meski menunya sangat sederhana, tapi saat ini, mereka hanya makan nasi sebungkus berdua yang dibelikan pak Udin sebelum berangkat dan dititipkan pada tetangga dan uang 300 rupiah untuk dua orang, katanya uang saku ke sekolah. Bahkan pernah suatu ketika di sekolah, sedang pembagian raport siswa yang harus diisi paraf wali masing-masing, Arim dan Faris pulang mencari bapaknya untuk minta tanda tangan, tapi rumahnya kosong. Bagaimana? Raport itu harus dikumpulkan besok.

Mereka menunggu kedatangan pak Udin dzuhur, ashar, hingga larut malam, mereka tertidur dalam penantian sang bapak demi seoret tanda tangan. Bangunnya, mereka melihat sekeliling rumah, masih sepi.

“bapak belum pulang ya Man? Padahal raport harus dikumpulkan hari ini” ujar Arim dengan raut wajah sedih.

“sudahlah, tandatangani saja sendiri, lagian bapakmu tidak akan pulang seperti kemaren.” Jawab maman sambil menyodorkan pena. Aku punya bapak tapi jiwa bapak tidak kumiliki gumamnya dalam hati. Ia menandatangani raport itu dengan oretan yang sangat jelek, sambil mengusap matanya yang sedari tadi menjatuhkan embun hangat di pipi. Hanya satu tanda tangan saja bapaknya tak bisa memenuhi, apalagi ia minta waktu untuk jalan-jalan, bercanda, bersama-sama. Sungguh sangat tidak mungkin.

***

“mbak, antrian di belakang masih banyak loh. Kok melamun sih?” tanya panitia Bedah Buku di suatu pesantren terbesar di Madura. Ia mengedarkan pandangannya ke belakang, ternyata benar. Banyak orang yang sedang mengantri dengan tangan yang menggenggam buku bersampul ungu untuk ditandatangani oleh penulisnya. Yah, gadis itu adalah Arim. Yang dulu tak pernah dibayangkan akan seperti ini. Membedah buku ketiganya. Dia hanya tersenyum simpul mengingat masa silam yang kelam.  Ia teringat dulu, saat ibunya berjanji membelikannya tas baru, justru ibu gurulah yang membelikannya karena Arim dan Faris menjadi anak yang berprestasi di sekolah. Bu guru baik hati itu memberi sederet kalimat yang hingga saat ini masih terekam indah di memorinya;

“keterbatasan bukan hambatan untuk kamu menjadi sukses, nak… terus kamu kejar cita-citamu. Dan nanti, berusahalah untuk hidup lebih baik dari orang-orang yang telah mengabaikanmu saat ini”

 

Penulis:

Imroatul Karimah, Lahir di Sampang, 19 12 98. Sudah pensiun sekolah, dan memang tidak mau lanjut ke universitas. Penulis pemula dan amatiran, karena karya masih 3 buku yang tembus ke penerbit, tapi insyaallah bentar lagi akan terbit buku keempat.

 

0 comments on “Arim The Dreamer of Good Future

Leave a Reply

Your email address will not be published.