Wednesday, 28 October, 2020

Puisi-Puisi Abunk Fachry


Puisi-Puisi Abunk Fachry

BULAN KOTA JOGJA

Malam ini bulan saya tertidur,

Lelap tanpa riuh suara dengkuran.

Saya hanya ingin mencuri waktu tuk berkunjung kepekarangan rumahnya.

Bersama malam dan secangkir sejarah manis yang saya racik dari rindu

Yang bergelombang.

Setiap malam saya melakukannya

Meski geimis mengundang gaduh pada bulan saya.

Malam selanjutnya saya tak beranjak.

Sebab bulan saya tak tertidur, dangan wajah pongah ia tenggelamkan

Malam saya yang telah menunggu di pekarangan rumahnya.

Saya terdiam menangkupkan rindu padamu.

Entah,esok masih bisakah saya bertamu dipekarangan

Yang hampir jadi milik kita ini.

Tapi saya tidak tidur, menunggu bulan saya tidur dalam pucatnya.

Tapi bulan saya tak lagi tertidur. Bulan telah pingsan di atas kota jogja.

 

Krapyak,Yogyakarta

 

 

PELABUHAN TIMUR

Semalam kumbang berdiskusi,

 beratap mendung dan berlampu bulan

ditengah kerumunan syair yang di doakan menjadi nyanyian,

Ombak berdebur, mengadu semangat menjadi umur. Kita tak tahu tentang hari esok, gelap tanpa sholat.

Sesak tanpa bacaan ayat tuhan,

Tadi malam kumbang menyapa tuhan, menyampaikan perasaannya tentang nasib,

Berlumur kesedihan yang ditahannya berhari-hari yang lalu,

ia bercerita tentang nasibnya, badannya yang kecil menggigil kelaparan,

bicaranya terbata-bata pada tuhan. Ia ingin sekali merdeka, ya merdeka dari ketidak adilan.

 

Bangkalan, 22,  juli, 2018

 

 

REHABILITASI

Aku membuai malam malam. Mengutuk diri sendiri di setiap perjalanan yang hambar.

            Celakalah aku, tak cukup bekal aku kais dari jengkal detak ke detik yang di suguhkan padaku.

Jiwaku terlalu layu, membunuh matahari dihari ketiga dilahirkannya sebuah penyesalan.

Malamku tak kunjung usai, melayari kota demi kota, harapan dan pada harapan. Aku tak ingin mati ditipu waktu yang licik. Matanya picik dan nafsu yang melepas gejolaknya pada sebatang guling yang hilang malunya.

            Seperti sarapan, aku mengonsumsinya setiap hari dan setiap waktu merengek kelaparan. Tuhan! Aku ingin sembuh.

 

Yogyakarta.

 

Penulis:

Abunk Fachry, merupakan nama pena dari MOH FAHRI, lahir di Bangkalan, Madura pada 12 september 1996. Riwayat pendidikan di SDN Pendabah 02, MTs Hidayatuddiniyah, MA Darul Ulum Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura. Selama di pesantren, penulis menempuh jurusan BHS, kemudian melanjutkan program studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan mengambil Program Studi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Pengalaman organisasasi yang pernah di ikuti adalah Komunitas Teater Kertas, Ketua Umum Sastrawan Muda Banyuanyar (SAMBA), dan sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan (HMJ PSP), karya-karya yang sudah dihasilkan adalah pementasan teater sendratasik (Siap Grak) dalam ujian akhir mata kuliah Penciptaan Seni 1, (Bakaeng) dalam ujian akhir Penciptaan Seni 2. Penulis juga mengguluti dunia sinematografi dan karya film pendek yang telah dihasilkan adalah (Jangan Gantung Sepatu) Tahun 2017 (Surup) Tahun 2018 dan yang terakhir adalah (Selembar Senja) Tahun 2019. Dalam dunia tulis menulis beberapa karya yang sudah di hasilkan adalah Kumpulan puisi (Bulan Kota Jogja) 2018 dan kumpulan cerpen berjudul (Tangisan Nonik Belanda di desaku). Harapan dari penulis adalah semoga karya- karya yang sempat ia luapkan menjadi hal yang dapat menginspirasi bagi pembaca dan penikmat.

 

 

 

 

 

0 comments on “Puisi-Puisi Abunk Fachry

Leave a Reply

Your email address will not be published.