Monday, 26 October, 2020

Puisi-puisi Ach. Syaiful Bahri


PEREMPUAN MUKENA
;Untuk yang pernah berjalan searah, namun kini hanya menjadi sejarah.

Di wajahnya bulan bergelantungan
Di bibir dan senyumnya ada tebu tumbuh subur
Di matanya matahari terbit
Di hidungnya jarum tertancap.
Memberi jalan sorga di setiap jalan persimpangan
Membetulkan kopyah yang sempat miring
mengenalkan tuhan agar tak salah di perjalanan
Serta menaruh mawar yang mekar dalam dada.

Waktu itu bukan salah saya dan bukan salahmu telah membocorkan perahu yang sudah terlanjur berlayar. Tapi, kita berdualah yang menjadi dalang, merobek bendera dan memporak-porandakan layar bagi perahu kita yang kadung jauh berlayar. Sekarang nasib perahu tumbang. hanya guntur menatap nyalang terus menerjang lantaran iya begitu jalang.

Sekarang saya sadar
Jika perahu kian karam yang paling terpenting terlabih dahulu yaitu mencari yang bocor untuk di sumbat. Agar tak ada di antara kita yang mati sebab terlambat.

Pulanglah…
Di dalam rumah hujan tak kunjung berhenti serta hampir di seluruh ruangan ini benalu menjalar kemana-mana.
Disini saya sudah lama menunggu membukakanmu pintu.
Masuklah ke dalam, di luar takkan kau temui jalan yang kau tapaki untuk kembali. Cepatlah masuk ke dalam dan akan saya tutup pintu ini rapat-rapat agar tak ada siapapun kecuali hanya kita yang bermesra kasih selama. Akan saya ambil kembali baju perang dan pedang yang sudah usang. Mari kita pakai dan siap-siaplah untuk bertempur melawan guntur yang mengharapkan kita terkubur.

PURBA

Di jalan yang purba
Dayang sumbi berlabuh
Hanya luka dan sorga di tabuh.
Hidup tapi tak hidup
Mati tapi tak mati
Serupa mendapat benggala bertabur kamboja.
Ya, siapa sangka
Inilah rampai luka.
Saya tahu,
Tetapi saya tidak tahu
Saya tidak tahu,
Tetapi saya tahu
Ah, membingungkan
Seolah saya menghadrahkan semadi yang cukup liar.
Hu,
Di subur isya’ ada tubuh yang bersemayam
Sesaat menjilat, gemuruh nyalang bermacam-macam
Di saat itu saya tahu, bahwa saya tidak tahu bilamana saya purba atau bukan.

MAHA GURU
;Kepada R.Kh. Hasan Bakir

Sampai pada hari yang di tentukan datang
Tibalah dimana kematian bertandang
Izroil mengambil nafas dengan hati
Merampas detak dengan pasti.

Wahai Mahaguru…
Benarkah hal ini menimpa padamu?
Jika benar, air mata kami begitu mengalir bagai gesekan biola berdawai risau. Namun, kami sebagai para santrimu masih tak menyangka atas kepergianmu. Sebab, di surau-surau kampung, di masjid dan pondok pesantren petuah yang engkau berikan masih hidup dan mengalir membetulkan langkah yang salah. beberapa pekan sudah berlalu, tanpa kami sadari kini telah menginjak 40 hari atas kepergianmu. Tak pernah sepi pembaringanmu wahai mahaguru… peziarah mengerumuni teduh nisan, menabur kembang-kembang Firman, kepadamu yang beriman. Dari lubang ingatan, kami intip masa lalumu:
bila sebelum adzan di kumandangkan
Pasti sholawat di lantunkan
Selalu membaca wirid setelah subuh
Sampai matahari berlabuh
Tak putus melaksanakan sholat berjamaah
Meski sakit seringkali menjamah.
Dari keistikomahanmu kami menuntut ilmu.

Wahai mahaguru…
Kami merindukanmu
Rindu ini kian bersarang
Datanglah walau sekali meski di dalam alam mimpi
Sejenak membetulkan letak tangan kami memegang lidi.

Penulis:

Ach. Syaiful Bahri, seorang pengangguran yang bergelut dikomonitas Teater Qolbu Kab. Pamekasan.

0 comments on “Puisi-puisi Ach. Syaiful Bahri

Leave a Reply

Your email address will not be published.