Sunday, 25 October, 2020

Puisi – Puisi Azhar Azizah


Alif Lam Mim

Alif Lam Mim,
Aku bersaksi, aku tersesat di hamparan bumi dan langit
Alif Lam Mim,
Dan aku bersaksi, aku tersesat dalam kefanaan duniawi.

Di antara temaram siang dan malam, aku berdzikir dan berkidung kepada-Mu di antara kehampaan alam
Aku tersesat, tersesat dan mencari dalam kesucian-Mu.
Aku tersesat, tersesat dan mencari dalam keagungan-Mu.
Mencari jalan sejati lewat sajak-sajak Rumi
Mencari jalan abadi lewat sajak-sajak kitab suci.

Engkau menyelam dalam ribuan makna
Engkau menyelam dalam lautan kata
Engkau menyelam dalam jelita semesta
Engkau menyelam dan menyelam dalam rentetan semesta yang tumpah ruah
Yang bahkan aku sendiri tak ada daya dan upaya untuk menyerupai-Mu, wahai kekasih.

Alif Lam Mim,
Demi segumpal darah dan segumpal dagingku
Sekujur darah dan buluku merinding
Tenggorokanku tiba-tiba tercekat kering
Engkau hadir dalam terang penyamar
Yang tidak ku kenali dan merasa bodoh dalam tepi-tepi kesuraman
Malu aku malu
Fana aku fana

Alif Lam Mim,
Mencintai-Mu adalah ibadah terliarku
Shalawat serta salam teruntuk pada-Mu, wahai Kekasiku Yang Maha Pengampu.

 

Nietzsche, “Siapa Aku?”

Siapa aku?
Ia bersabda dalam kanon-kanon suci khas buatannya dalam temaramnya siang dan malam
Ia menangis bisu dalam ke hampaan
Ia bertanya-tanya dalam ke-aku-an
Ia kelaparan dalam rentetan-rentetan kegelisan.

Roti dan anggur rasanya hambar
Matahari mulai tenggelam ke dalam lautan Mencekik keadaan dengan malam
Descartes mulai menghantuinya dalam kesangsian
Kant mulai mengolah dan mencari jalan sistematis tentang diri Nietzsche yang berantakan
Marx tertawa di ujung sana sambil memegang secangkir beer ditangannya
Zizek melihatnya iba dengan puntung rokok di tangannya
Nietzsche yang kelaparan
Seorang pesimis yang ketakutan dan bimbang sendiri dalam kebijaksanaannya.

Gelisah, gusar, dan gundah
Kakinya tidak bisa di ajak bercengkrama
Nietzsche berjalan ke sana kemari tak bisa diam dan berpikir melankolis bak Kierkegaard yang diam di ambang kepiluan
Ia melintir ujung kumisnya yang tebal
Nietzsche yang hampa dan dihantui banyak pertanyaan dalam kegelapan
“Jika kau ingin berjuang demi kedamaian jiwa dan kebahagiaan, maka percayalah, jika kau ingin menjadi penyembah kebenaran, maka tanyakanlah…”
Nietzsche geram dan menghembuskan nafasnya kasar
Surat dari Elisabeth membuatnya hilang arah dan gelisah tak karuan.

Apollonian dan Dionysian khasnya suka sekali berperang
Dalam perang, pergumulan bebas tidak dapat terelakkan
Semacam diskusinya dengan Kahlil Gibran, ia mengilhami duri dalam kepesimisan
Ia abadi dalam kepesimisian
Berantakan, Elisabeth membunuhnya dalam rentetan kepiluan.
Nietzsche menghampiri Kierkegaard, dan mengajaknya bersulang.
Badannya tiba-tiba menjadi kaku dan kedinginan perkara surat menyesatkan yang membuatnya bungkam
Lagi-lagi ia bertanya “siapa aku?” Tak ada yang mampu menjawab, semuanya diam.
Bahkan burung piaraannya sekalipun berhenti berkicau
Nietzsche yang malang, ucap Marx ironi.

 

Gadis Puisi

Di antara lelautan, rambutnya bergelombang beterbangan
Di sepanjang bibir-bibir pantai, bibirnya ikut memipih menjadi risau
Di hamparan senja pantai, matanya bersautan dengan matahari yang menyorotkan lembayung kemesraan
Kepada semesta yang suka sekali berbicara
Kepada semesta yang suka sekali menyajikan kidungan gurindam aksara.
Sore ini kulihat seorang perempuan yang asyik menyaksikan senja diam-diam.

Perasaan penasaran,
Tertuju kepada siapa senandika di tangannya?
Begitu digenggam dan sangat erat
Sekumpulan carik-carik kertas yang disatukan dalam buku catatan
Tak ada yang mampu menerka isinya apa
Namun jelas dari raut wajahnya, kekhawatiran dan rindu beradu satu.
Apakah dia merindu? Tak ada yang tahu,
Namun kebanyakan perempuan memang suka seperti itu
Menyimpannya baik-baik dalam aksara,
Hanya hatinya dan semesta yang mampu menerka,
Malang, tapi istimewa.

Langit mulai malam,
Aku masih diam menyaksikannya di balik batu-batu pantai yang besar,
Gadis itu mulai pergi di antara hamparan pasir-pasir pantai,
Padahal bintang-bintang mulai akan muncul ke permukaan,
Namun buku catatannya lupa terbawa pulang,
Aku menghampiri diam-diam,
Bukunya terbuka minta dibaca,
Ku buka satu persatu halaman,
Membosankan, sesuai dugaan,
Cuma puisi-puisi murahan copassan Kahlil Gibran,
Ku mulai menutup bukunya,
Tapi tiba-tiba angin pantai bertiup kencang.
Bukunya seolah ditiup dan tiba di akhir halaman,
Rupanya ada tulisan di sana.
Secarik aksara dengan tulisan miring nan indah
Ku mulai membacanya pelan-pelan,
Tiba-tiba aku membanting bukunya dengan lantang.
Setan! Umpatku kencang,

Gadis puisi punya kebiasaan suka menyimpan diam-diam,
Rupa-rupanya aku yang ia rindukan.
Aku dikoyak-koyak bimbang.

Penulis:
Azhar Azizah, Mahasiswi penyuka melankolis, kopi dan kiri.

0 comments on “Puisi – Puisi Azhar Azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published.