Wednesday, 28 October, 2020

Puisi-puisi Husnu


……………….

Apa yang kau lihat sepanjang perjalanan? Iring-iringan pohon jati yang perlahan bergegas ke ujung jalan? Atau orang-orang dasian yang mabuk di halte dekat jembatan?
Yang kulihat adalah lelaki hilang akal terseok-seok mengejar gerimis di perempatan
Kenapa dia?
Sebab ia terlihat lebih bodoh ketimbang pohon jati dan orang-orang dasian (itu)
Lalu apakah kau merasa iba?
Tidak, sebab ia tampak gembira melakukannya, dan sepertinya aku harus belajar banyak padanya
Lalu apalagi yang kau lihat?
Aku melihat seorang ibu ringkih menyunggi jajanan keluar masuk bis sembari melafalkan satu persatu nama-nama anaknya, ada yang bernama calon bidan, calon tentara, calon pejabat, juga calon pilot.
Ia tidak menyebut nama suaminya?
Nama suaminya telah lama ia gubah jadi bait-bait doa yang sering disebutnya tengah malam, katanya waktu paling romantis
Lalu kau juga tidak merasa iba?
Tidak, sebab ia punya apa yang tidak aku dan kebanyakan orang punya
Maksudmu ia punya anak-anak itu?
Bukan, ia punya hati yang luas
Lalu ada lagi yang kau lihat?
Aku melihatmu di depan, mengemudi dengan cekatan, kemudian aku membayangkan bahwa setelah sampai ke tujuan, hal-hal seperti ini akan kau tanyakan.aku melihat sesuatu yang selama ini tidak kau lihat lalu menyimpannya rapat-rapat.
Apa itu?
Aku tidak berani memberi tahu siapapun selain kepada sindiran-sindiran di kepalaku.

SAJAK YANG KELIRU

Saya pernah bersajak di bangku taman
Dan hakikat datang menertawakan
Ia bilang beberapa kalimat keliru
Harusnya kata menunggu diganti peluru
Rindu diubah mesiu
Bait pembuka jadi penutup
Bait penutup jadi pembuka
Katanya saya juga mesti pandai
Membaca titik koma
Tanda seru dan tanda tanya

SURAT DARI PENYAIR-PENYAIRAN

Kepada penyair-penyairan
Di sini, masih banyak orang-orang yang garis nasibnya ditulis kesemena-menaan, pada ekor-ekor mata mereka mengalir hujan yang membasahkan. Diatas ubun-ubun mereka berlangsung pesta sekawanan tikus mengangkang buang kotoran.

Kepada aktivis-aktivisan
Di sini masih ada juru bicara yang kerjanya gosipin pantat, orang-orang dingin yang di kepalanya cemooh dan umpatan beranak-pinak, bibir-bibir buang ludah di sembarang tempat. Kita, suara-suara lirih yang menunggu di teriakkan, atau malah geliat-geliat lintah di comberan peradaban?

Kepada pemimpin-pemimpinan
Kami patah hati, cinta kami kalian buang ke selokan.

Husnu;
adalah mahasiswa IAIN Pontianak jurusan Komunikasi

0 comments on “Puisi-puisi Husnu

Leave a Reply

Your email address will not be published.