Monday, 26 October, 2020

Puisi-puisi Moh. Alim


Perempuan Tua

Di hari minggu yang sendu
Perempuan-perempuan tua melongok ke jendela
Rambutnya yang tampak gimbal, kulitnya terlihat mengkerut.

Lusuh !!
Iya, kulihat meja dan keranjang
Cermin dan lukisan perempuan separuh telanjang
Dengan kursi dan pohon palma dibagian belakang.

Pandangan perempuan itu semakin kosong
Kemudian ia bersandar di jendela
Dan orang-orang di sekitarnya, menyebut santai.
Ah, itulah kesia-sian hari minggu !!.

Perempuan tua itu gigih
Tidak ada air mata dan tidak ada cemas
Matanya hanya terpaku pada ujung aspal

Ruang hampa telah menjadi rumahnya
Fragmen-fragmen musik tua
Dan trotoar-trotoar berdebu
Semata-mata menjadi pandangannya.

Oh perempuan itu tersandung ke dalam kematian
Dan tiba-tiba pandangan itu berhenti di jalan yang dikenal
Sedikit berdebu dan tak menarik lagi.

Tangan perempuan tua itu lupa
Mengelus rambut dan tengkuk anak laki-laki
Rambutnya kian memutih dan lepas di
Lantai-lantai yang kotor.

Sungguh tidak ada belaian angin,
Tidak ada yang sembunyikan wajahnya
Dan tidak ada yang membasahi bibirnya
Di pagi hari.

Di hari minggu yang mati
Sedih, terbayang perempuan tua itu
Dicekik oleh kobosanan penyakit !

Tidak ada kenangan
Tidak ada kerinduan
Tidak ada harapan
Dan hanya terlihat telanjang dan tertidur

Di hari minggu yang mati
Dirinya menjelma kuburan bagi perempuan-perempuan tua lain.

Jakarta,2020

 

Maut Sendiri

Ada kuburan sepi,
Kubur-kubur penuh belulang dan cacing,
Hati melewati suatu trowongan,
Gelap, gelap, gelap.
Bagaikan di sebuah hutan rimba, kita mati dari dalam
Kala hati terjebak,
Kala jatuh lepas merusak hati dan jiwa.

Ada mayat-mayat,
Ada kaki-kaki dari tanah liat
Ada maut dalam belulang,
Bagaikan bayi murni
Bagaikan sanak –anjing tiada-
Memanjat dari sejumlah lonceng, dan kuburan
Yang mengembung dalam kebasahan, surapa tangis dan hujan.

Aku melihat sendiri
Kadang-kadang peti mati
Berlayar membawa keliru mayat-mayat pucat,
Perempuan berbaju orang mati,
Tukang roti putih bagaikan malaikat,
Gadis-gadis termenung kawin dengan notaris.

Peti-perti mati melewati sungai maut tegak lurus
Orang menyebutnya sungai merah
Pulang berlayar dengan suara maut
Penuh dengan bunyi-bunyi burung hantu
Bahkan maut dan tragis.

Langkahnya tetap bergema
Dan bajunya berdesah bungkam seperti batu
Aku tahu, hanya sedikit mengerti, hampir-hampir tak nampak !!
Namun aku kira bajunya berwarna violet yang serasi dengan tanah. Karena tanah hijau yang menembus dari sehelai daun violet yang warnanya guram : Musim dingin yang enggap.

Maut-maut juga melewati dunia menyamar seperti sapu-
Menyapu lantai. Mencari orang mati dan jarum maut mencari benang.

Kemudian, muat di dalam ranjang lipat
Dalam kasur-kasur lembab, dalam alas kasur yang hitam berkutu, Ia menyerah hidup. Namun tiba-tiba meledak
Mengembuskan jeritan seram yang mengembung seprei,
Ranjang-ranjang pun berlayar menuju pelabuhan,
Di mana maut menunggu pakaian laksamana.

Jakarta,2020

Menutup Mata

Mereka tutup matanya,
Tadi masih terbuka :
Mereka tutup mukanya
Dengan kafan putih bersih
dan ada yang tersedu merengek
yang lain tunduk bisu,
Tapi mereka semua tinggalkan kamar duka.

Api dalam bambu
Menjalar ke dinding kaca,
Menjalar ke ruang imajinasi
Dalam bayang-bayang terlihat
Bentuk jasat si mati tergores tajam-nyata.

Waktu matahari menjulang masih muda merahnya
Desaku ikut bangun?
Seribu satu gaduhnya
Melihat seabrak hidup dan gaib
Dari terang ke gelap melintasi pikiran yang kacau.
Duhai tuhan
Mengapa mereka harus mati?

Jakarta,2020

 

Penulis :
Moh. Alim,Lahir di Madura, 20 Maret 1997. Menempuh pendidikan di jurusan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beberapa tulisannya pernah termuat di beberapa media. Aktif di Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat), dan INCA (Indonesian Culture Academy), juga ikut serta dalam pengembangan seni di Teater Syahid dan Teater Tonggak. Saat ini aktif sebagai jurnalis kliksaja.co

0 comments on “Puisi-puisi Moh. Alim

Leave a Reply

Your email address will not be published.