Monday, 26 October, 2020

Puisi-Puisi Moh Alim


Puisi-Puisi Moh Alim

Musim kemarau

Di musim kemarau

Tidak ada kunang-kunang berterbangan

Tidak ada capung-capung berkeliaran

Tidak ada hewan-hewan menjinjikkan datang

untuk mengusik-ngusik khayalanku.

 

Musim kemarau

telah melempar senyum

di saat aku berduka kepanjangan.

 

Andai kata, tokang roti datang kepadaku,

menawarkan sebungkus roti  untuk dicabik-cabik,

dipotong-potong belahan tegahnya

seperti memotong Jantung manusia.

Kemudian lekukan sampingnya di iris-iris

serupa irisan teliga lelaki yang tuli.

 

Musim kemarau

Telah merusak nafasku.

Jakarta,2020

 

 

 1 Juli

Sekian kalinya ia menunggu

Tak ada lelaki datang melihat

dan merayunya.

Sekian kali ia menunggu

Suara gendang dan burung hantu

Mengusik kesendiriannya.

 

Berita kabar sore mengembirakan

seluruh penduduk desa

Ia akan dipinang lelaki melayu

Oh. Iya,? Selamat !! Ucap kekasih

Gelapnya.

 

Perempuan itu sangat jelas di mata kekasihnya

Bahwa ia tidak akan memilih dirinya

Lantaran miskin tak berpendidikan.

 

Oh, kekasih perempuan itu tercengang

Di hadapan cermin yang pecah-pecah

Hatinya seolah menolak ombak yang keras.

Wahai lelaki,

Aku ingin mengatakan

Bahwa dunia tak perlu kau kutuk

Dan kau tak perlu hujani

Dengan air matamu.

Jakarta,2020

 

Menjelang Malam

Deretan bangunan ibu kota

memawarnai langit hitam

dan lalu lintas yang sepi

semua menanti jendela akan terbuka.

 

Apa yang telah terjadi

Di sini

membuat manusia menakutkan.

 

Jangan bersedih sayang

lantaran arakan ini bergerak

pelan-pelan menuju pemakaman.

 

Anakmu yang berani

terlempar ke bumi

ketika melawati torowongan

yang tak pernah kita mengerti-

apa itu sesungguhnya.

Jakarta,2020

 

Penulis:

Moh. Alim, Penyair asal Pamekasan

 

 

0 comments on “Puisi-Puisi Moh Alim

Leave a Reply

Your email address will not be published.