Monday, 26 October, 2020

RAIN Dan 98


Baginya bayangan di cermin itu sudah tak asing dan sangat wajar sebagai pemandangan buruk dalam hidup kelamnya. Tubuh tinggi dan kurusnya sudah menjelaskan bagiamana dia menjalani hidup selama 21 tahun. Namun tubuh itu tak pernah mengenal hati yang teronggokk di dalamnya. Karena Tuhanpun tak pernah ia kenali. Hidupnya hanya untuk uang dan hura-hura.

Ia pandangi kembali wajah ovalnya di cermin berukuran besar itu, penampilan serba hitam, dengan celana jeans berantai besar yang terdapat sobekan dimana-mana, kaos hitam berlapis mantel kulit, dan rambut yang berwarna. Wajahnya yang kelihatan garang dan menyeramkan, namun ada titik yang berbeda saat siapapun memperhatikan lekuk kedua matanya yang dipenuhi dengan berbagai rasa. Ada sebercak asa untuk kembali pada ketenangan, ada secarik harapan untuk menuai kebahagiaan yang tak pernah ia jumpai selama ini. Namun ia pandangi lagi dirinya yang berantakan itu “Shit! Aku sudah muak dengan semuanya!” cercanya dengan tinjuannya pada cermin itu, tanpa disuruhpun pecahan kaca itu menyerang tangannya yang sedang bersapu kulit. Tangannya berlumuran darah segar, ia mengernyit dan tersenyum yang tak dimengerti, artinya “Ayah, aku mohon! Aku tidak ingin hidup seperti ini” matanya mulai menganak sungai. Untuk pertama kali ia mengenal air mata yang hangat seperti itu.

Ia pandangi tangannya yang berdarah, namun sikapnya hanya biasa-biasa saja. tak ada yang harus dikagetkan baginya, karena satu jam yang lalu tangan itu sudah melayangkan nyawa yang ke-96 kalinya. Yaa. “Pembunuh Bayaran” adalah profesinya selama 7 th. Dia hanya menjadi boneka bagi ayahnya yang pendendam dan rakus. Dia menjadikan anaknya sendiri sebagai agen pembunuh musuh-musuhnya. “Ra…!!!” teriak seseorang dari depan kamarnya. Ingin hantinya mengabaikan panggilan menyakitkan itu, namun….. “Rain!!! Buka pintunya!” teriakan itu semakin menggelegar dalam hati gadis itu. Nyeri.
Yah. Sungguh lebih menyekitkan dan menyedihkan lagi saat dia teringat dan menyadari bahwa dirinya adalah seorang gadis. Gadis yang menjadi kelam dengan predikat hina sebagai “Pembunuh Bayaran” ayahnya sendiri. Gadis yang saat ini seharusnya menjadi gadis remaja cantik dan menawan. Yang seharusnya menjalani hidup senormal mungkin. Menjalin hubungan dengan seorang pria pujaannya. Tapi, itu hanya terlintas di kepalanya sepersekian detik.
Keadaan ini mengingatkannya pada pria muslim dari luar kota, matanya bening, wajahnya bersinar. Hati Rain teramat terpikat padanya. Ia diam-diam menemui pria itu, dan belajar agama Islam. Santun, Lembut, Dan tidak menghakimi. Itulah mengapa Rain menaruh sebagian hatinya pada pria itu, namun masa-masa indah itu tak berlangsung lama. Lima hari setelah pertemuannya, ia sudah mendapatkan kabar kematian sang pujaan, dan ternyata ayahnyalah pelakunya. Sejak saat itu, ia muak dengan dirinya sendiri. Seperti inikah sakitnya orang yang ditinggal kekasihnya karena ulahku? Rain membatin.
Ia berhenti dari isaknya dan bangkit menuju pintu. “ngapain aja di dalam?” tanya Herry mengintimidasi. Rain hanya menunduk dan berujar lirih “Yah, Rain capek. Capek dengan hidupku yang seperti ini” pyaarrr…!!! tamparan itu sudah tak terasa sakit lagi bagi diri Rain yang sudah bersahabat dengan tangan ayahnya itu “Sekali lagi kamu berkata begitu. Ayah potong leher kamu! Kamu ini jagoan ayah, jangan membuat ayah marah” Rain mulai meneteskan air mata, gender kewanitaannya mulai bereaksi lebih cepat. Dengan hati yang ditekan kuat ia beranikan dirinya untuk mendongakkan kepalanya di hadapan Harry yang sedang naik pitam “lebih baik ayah bunuh aku aja dari pada aku harus membunuh orang-orang tak bersalah itu. RAIN CAPEK, YAH!!! Tolong biarkan Rain hidup selayaknya wanita lain!” dua tamparan Harry melayang lagi, dan tamparan ketiga Rain balas dengan tinjuan keras di bibir dan pipi Harry, auranya berubah singa sadis yang sedang menemukan mangsanya, dia mengamuk tanpa ampun. Sampai-sampai Harry tak bisa menepisnya, dia terpintal ke belakang, terhuyung pada lemari kaca sehingga hanya menyisakan pecahan-pecahan kecil yang mengkroyok tubuhnya yang lemas.
Rain terus memberinya beberapa pukulan sekuat mugkin, fikirannya melayang pada masa ayahnya menjadikannya robot, boneka, dan pemuas nafsunya, berkali-kali ia hamil namun berkali-kali pula ayahnya meggugurkannya. Semakin ia teringat satu persatu kejadian menyakitkan itu, semakin keraslah pukulannya. Bibir Harry sobek, hidungnya bercucuran darah, ujung matanya bengkak tergores, keningnya mengalirkan darah, perutnya mual, lehernya sobek, dan darah dari mulutnya tak mau berhenti akibat hentakan keras tangan dan kaki Rain. Tubuhnya lunglai, ia hanya bisa mengerjapkan matanya tak berdaya.
Rain menatap ayahnya garang, penuh dendam. Langkah tubuh tinggi itu membuat Harry mundur ketakutan. Sekuat tenaga ia menggeser tubuhnya ke belakang namun tersekat dinding yang sudah dipenuhi dengan bercak darahnya. “Ra..in…. Nak! Sadarlah! I…ni.. ayah…mu” ucapnya terbata. mendengar kalimat itu Rain hanya tersenyum miring dan ..cuihh.. “dan apakah ayah sadar siapa aku? Aku adalah anak yang kau nodai, anakmu yang kau siksa hidupnya. AKU ANAKMU!. Ayah tak merawatku dengan baik. Ayah besarkan aku untuk menjadi pemuas nafsu dan menjadi pembunuh. Dalam hidup Rain, tangan ini sudah menumbangkan 96 nyawa. Jadi, jangan salahkan aku jika hari ini ayah menjadi sasaranku yang ke-97. Nyawa ayah akan melayang di tanganku sebagimana mereka yang telah aku bunuh karena ayah. Mereka yang tak bersalah saja dibunuh, maka yang bersalah seperti ayah ini lebih pantas untuk dibunuh,” wajahnya semakin dekat. Sehingga nafas Rain yang tak beraturan itu terdengar jelas oleh Harry yang tengah terkapar. Rain mundur sedikit dari wajahnya dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Salah satu benda yang selama ini dia gunakan untuk menbunuh orang, diangkatnya benda hitam itu tepat di dahi Harry yang berkeringan campur darah bekas amukan anak gadisnya itu, dia tersenggal-senggal “Ra… ayah mohon…maafkan ayah. Turunkan pistolnya. Biarkan ayah hidup…biarkan ayah mem..perbaiki se..galanya… ayah menye….” duarrr!!! Suara ledakan itu juga meledakkan hati Rain, tangannya gemetar. Matanya terpejam kuat. Dia tak bisa menahan amarahnya. Air matanya pun sudah tak dapat dibendung lagi. Tubuhnya ambruk di hadapan tubuh ayahnya yang sudah kaku tak bernyawa. Matanya menyapu tubuh kekar itu, hingga sampai pada bagian kepala yang sudah tak terlihat wujud aslinya. Hanya darah segar yang mengguyurinya. yah, dia telah sukses membunuh ayahnya sendiri. Peluru pistolnya telah membakar otak ayahnya yang selama ini dia rindukan kasih sayangnya, yang selama ini nantikan senyum tulusnya sebagai ayah, yang selama dia harapkan pelukan hangatnya. Dia bangkit dari duduknya dan menghapus darah di wajah Harry dengan kedua tangannya yang gemetar “Ayah… maafkan Rain, Rain sudah tak punya pilihan lain” ucapnya lirih, bibirnya membiru dan gemetar. “Ayah mau ya Rain peluk? Rain kangen jadi anaknya Ayah” gadis itu pun memeluk tubuh ayahnya erat seaakan-akan tak ingin dia lepaskan lagi. “Ayah… Rain mau kita terus seperti ini. Selalu berpelukan tanpa keterpaksaan.” ia pandangi wajah ayahnya lekat-lekat. Lalu membelainya. Kemudia ia tidurkan kembali kepalanya di dada Harry seraya tersenyum. Dan….Duarrr!!! suara itu menggema untuk kedua kalinya, menggelegar di rumah besar itu, melengking di setiap sudut dan ruangan, mengagetkan para penghuni rumah yang tak terlihat, mengejutkan dunia, karena benda hitam yang bernama pistol itu jatuh dari tangan gadis itu setelah ia mengeluarkan pelurunya tepat di pelipisnya. Dada ayahnya bersimbah darah. Lantainya pun banjir darah dua insan ini. Nadanya lemah, jantungnya mulai tak berdetak, nafasnya pun hampir tak terdengar dunia. Namun, bibirnya tersenyum getir “A..yah, lihat..lah! Kita hidup… dan ma..ti bersama. A..ku bahagi..a, bi..sa mati di.. pelu…kan Ayah. Dan ter..nyata nya..wakulah yang… menja…di sa..saran tera…khirku, nya…wa yang ke-..9…8, sesuai dengan ta…hun kelahi…ranku, Ayah… ma..afkan Ra… ki..ta a..kan me..nyusul.. bun..da….”.

Penulis :
Rhilqy Al-Qhirazy, Lahir di Sampang, 19 12 98. Sudah pensiun sekolah, dan memang tidak mau lanjut ke universitas. Penulis pemula dan amatiran, karena karya masih 3 buku yang tembus ke penerbit, tapi insyaallah bentar lagi akan terbit buku keempat.

0 comments on “RAIN Dan 98

Leave a Reply

Your email address will not be published.