Wednesday, 21 October, 2020

Simpang Jalan Lain


Simpang Jalan Lain

“Fahri! Kau belum terlambat jika memulainya dari sekarang, berkemaslah, dan ikuti kata hatimu”

Perkataan itu membekas dipikiran, entah seperti apa rasanya, aku mulai pikun seperti kehilangan alur mimpi dari bunga tidurku. Sepertinya hari sudah mulai sore, matahari mulai lingsir, dedaunan dipohon menguning, dan tanah dihalaman rumahku semakin remah seperti pasir ditepian pantai, aku bangun dari tempat tidur yang usang sepreinya dan bantal bantal yang sudah berbau air liur ini, kemudian aku turunkan kedua kakiku ke lantai yang masih berdebu itu, aku terdiam mencoba mengumpulkan nyawa  yang masih setengah sadar,  sesekali aku terdiam dengan posisi duduk ditepian ranjang tempat tidurku, kemudian lamunanku pun pecah ketika mendengar suara keras, entahlah, seperti suara benda keramik yang dibanting, suara itu disusul suara teriakan perempuan yang tak lain ternyata itu adalah ibuku, teriakannya membuat seisi kamarku bergema. Entah apa yan sedang terjadi diluar sana tapi yang pasti ini bukan kali pertama aku mengalami hal seperti ini. “pergi sana, jangan pedulikan kami, kau berhak untuk memilih jalanmu sendiri!”. “diam! Apa kau bilang, kau yang sebenanya  tidak tahu diuntung” suara keributan itu terdengar samar-samar merayap melewati dinding kamarku, sepertinya keributan kali ini sudah sama-sama mencapai puncaknya, aku semakin bosan dengan perkaian yang mereka suguhkan disetiap pagiku, seperti seisi kepalaku mau pecah menampung teriakan dan tangisan yang diluapkan ibuku.

Tiba-tiba mereka masuk kekamarku dengan wajah yang memerah, dan air mata yang memenuhi wajah ibuku.

“Nak, sekarang kamu pilih, mau ikut ibu apa orang brengsek ini?”

“Mau dapat apa kamu kalo ikut perempuan ini nak, ikut ayah saja, kamu akan dapat apapun yang kamu inginkan”. Entah apa yang ada dibenak mereka berdua, mereka terlihat seperti anak SD yang merebutkan satu permen. Aku tidak mau berlarut dengan dialog yang mereka suguhkan pada pagiku ini, tanpa menjawab sepatah katapun, aku seret badanku dari kamar yang semakin pengap itu, berharap alam menyuguhkan hamparan udara segarnya untuk aku konsumsi pagi ini. Umurku baru saja 15 tahun, masih perlu bimbingan dari orang tua untuk mengajari yang benar dan yang salah. Entah, siapa setelah ini yang akan diributkan oleh mereka. “Huuuufftttt…,” Aku menghela napas panjang pagi ini, memulai rutinitas sebagai anak remaja yang tidak seberuntung anak remaja lainnya.

                                                            # # #

“Maukah engkau melangkah bersamaku, mari kita berjalan dan menatap langit diatas padang rumput yang hijau! Tapi ganti dulu pakaianmu, pakailah baju putih ini, dan masuklah ketaman bersamaku”.

“Siapa? Siapa yang kamu ajak?” Tiba- tiba aku terbangun lagi dari tempat tidurku, bukankah aku sudah bagun tadi pagi, oh tidak, Jangan membuatku takut tuhan! Aku masih terlalu muda untuk ditakut-takuti seperti ini. “Kreekkk..kreeekk” Jendela kamarku berbunyi digeser ranting pohon disebelah rumahku. Aku seret lagi badanku, berjalan seperti orang asing dikamarku sendiri, tapi kali ini berbeda, pagi ini tidak ada keributan yang biasanya membangunkanku dari tidurku, ini terasa aneh, seperti ada yang terasa kurang. Pelan-pelan aku putar gagang pintu yang ber usia itu, pelan-pelan tanganku mendorong badan pintu itu, tetapi suasana terasa sangat terang, putih sekali, mataku terasa silau tidak mampu menembus cahaya putih itu. Dengan rasa bingung yang membungkam pikiranku, aku tembus cahaya putih itu, berharap menemukan pintu depan rumah, langkah demi langkah terus aku jalani sampai aku temukan pintu itu. “Ini bukan pintu rumahku, pintu ini terlalu bagus, kenapa tidak ada lecetan bekas lemparan benda tumpul disini”, Yah, aku merasa ada yang janggal, semuanya terasa aneh dari aku terbangun tadi. Tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku dari belakang, dia berbaju putih seperti baju koko, dan celananya yang juga berwarna putih, wajahnya kira-kira lebih tua dua tahun dariku, Aku teramat kaget, karena dia tiba-tiba datang begitu saja.

“Fahri, pintumu sebelah sana, jangan masuk kesini, orang didalamnya tidak akan suka jika kamu masuk kesana, pintumu ada disebelah sana”. Cara bicaranya sama seperti suara yang pernah aku dengar dalam mimpiku, seperti tidak bisa membantah perkataannya, badanku bergerak sendiri mengikuti dia menuju pintu yang dia tunjukkan, tetapi terasa jauh sekali rasanya, napasku sampai terasa mau habis mengikuti dia berjalan, “Ayoo fahri, pintuya masih ada disebelah sana”. Dia seperti ingin sekali aku mengikutinya, aku mulai merasa takut, terasa seperti makin menjauh dari dari orang tuaku, dan untuk pertama kalinya setelah lama aku tidak pernah merasakan kalo aku rindu pada orang tuaku, “Bolehkah aku berhenti disni saja, aku teraasa lelah, aku ingin kembali saja pada orang tuaku, aku rindu pada mereka”, Tanganku melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi terus menarikku untuk mengikutinya. Tiba- tiba raut wajah orang itu seperti orang yang merasa kecewa dan sedikit kemarahan yang membalut wajahnya,  “Jika kamu tidak ikut aku sekarang, belum tentu suatu saat nanti kamu akan masuk lagi ketempat ini, mari merkemaslah dari keraguanmu itu, ikuti kata hatimu”.Dia seperti ingin sekali aku mengikutinya, tetapi langkahku semakin lama semakin berat rasanya, aku masih terlalu muda untuk dihadapkan dengan suasa seperti ini. Lantas dengan tegas aku menolak ajakannya itu untuk kembali ke tempat tidurku, dan seketika itu seperti ada angin yang berputar disela-sela mataku, dan semuanya terasa semakin memudar, aku sepertinya merasa mengantuk lagi, aku merasa badanku diangkat menuju sebuah tempat, samar-samar aku rasa, tetapi sepertinya sebuah taman yang banyak sekali anak-anak sepantaran dan lebih muda dari aku, kemudian badanku diletakan didepan pagar dari taman itu, “Selamat datang fahri, mari masuk, kita sudah lama menunggumu”. Mereka mendatangiku yang sedang rebah itu, saat aku mulai terjaga dan memulai langkah untuk masuk ketempat itu, tiba-tiba entah dari mana suasana itu, aku mendengar ibuku menangis sambil memanggil-manggil namaku, seperti terhentak, badanku seperti terpental kembali ketempat tidurku, dan cahaya putih tadi pelan-pelan mulai menghilang dari pandanganku, cahaya terkuras hingga berganti gelap. Suara itu terdengar lagi “Fahri..bangun nak! Maafkan kami yang sudah membuatmu kecewa”. Aku semakin yakin kalo itu suara ibuku, lalu perlahan aku buka mataku, aku terbangun dengan langit-langit kamar yang begitu terang, sepertinya ini bukan kamarku, setelah beberapa saat aku baru sadar kalo itu kamar rumah sakit. Kali ini berbeda lagi, pagiku tidak lagi disambut dengan dialog membosankan itu, “Ibu..kenapa kamu menangis, fahri baru bangun tidur, kenapa kalian tidak menyambutku dengan percekcokan kalian?. Nak, kami minta maaf, selama ini kami terlalu egois, kami sudah sudah berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi”. Aku tetap merasa bingun, kenapa aku bsa dirumah sakit, dan orang tuaku tanpa sebab mengakui kebodohannya itu. Kemudian terlihat ayahku menghampiriku, sepertinya dia baru saja selesai sholat, sebab kopyah dan sarung yang masih melekat dibadannya, kemudia dia duduk disebelahku dan mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. “Fahri, tiga hari yang lalu kamu kecelakan nak, badanmu ditabrak mobil yang melaju kencang, kamu langsung koma, dan kami sangat takut kehilanganmu nak, kami menyesal tidak pernah memperhatikanmu”. Baru kali ini aku melihat ayahku menangis didepanku, setelah mencerna penuuturan dari ayah, aku mulai ingat kalo aku terserempet mobil, saat pagi hari keluar rumah untuk mencari udara segar, dan setelah itu semuanya terasa seperti mimpi. Aku memceritakan kejadian yang aku anggap seperti mimpi itu, dengan tubuhku yang masih lemah, aku ceritakan semuanya secara rinci, mereka berdua mendengarkanku dengan seksama, sampai tidak terasa airmata mereka seperti bersiap untuk mengucur deras dari mata mereka. “Nak, sebenarnya orang yang kamu temui itu adalah kakakmu yang sudah lama meninggal, dia meninggal karena terlalu sering menahan tekanan, dia meninggal karena ditabrak lari oleh pengendara mobil, cukup satu kali saja kami melakukan kebodohanmu, sekarang hanya kamu jembatan kami satu-satunya nak”. Aku baru tahu semua hal yang selama ini mereka rahasiakan dariku, dari kejadian itu mereka tidak pernah lagi melakukan hal bodoh, ayahku benar-benar berhenti selingkuh dengan wanita lain, dan ibuku mulai mengikuti majlis untuk belajar lagi tentang agama islam, dan mulai saat itu pagiku tidak lagi mereka sambut dengan dialog-dialog itu…

                                                                  Selesai….

 

Penulis:

Abunk Fachry, merupakan nama pena dari MOH FAHRI, lahir di Bangkalan, Madura pada 12 september 1996. Riwayat pendidikan di SDN Pendabah 02, MTs Hidayatuddiniyah, MA Darul Ulum Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura. Selama di pesantren, penulis menempuh jurusan BHS, kemudian melanjutkan program studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan mengambil Program Studi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Pengalaman organisasasi yang pernah di ikuti adalah Komunitas Teater Kertas, Ketua Umum Sastrawan Muda Banyuanyar (SAMBA), dan sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan (HMJ PSP), karya-karya yang sudah dihasilkan adalah pementasan teater sendratasik (Siap Grak) dalam ujian akhir mata kuliah Penciptaan Seni 1, (Bakaeng) dalam ujian akhir Penciptaan Seni 2. Penulis juga mengguluti dunia sinematografi dan karya film pendek yang telah dihasilkan adalah (Jangan Gantung Sepatu) Tahun 2017 (Surup) Tahun 2018 dan yang terakhir adalah (Selembar Senja) Tahun 2019. Dalam dunia tulis menulis beberapa karya yang sudah di hasilkan adalah Kumpulan puisi (Bulan Kota Jogja) 2018 dan kumpulan cerpen berjudul (Tangisan Nonik Belanda di desaku). Harapan dari penulis adalah semoga karya- karya yang sempat ia luapkan menjadi hal yang dapat menginspirasi bagi pembaca dan penikmat.

 

0 comments on “Simpang Jalan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published.